Beranda

Thursday, July 5, 2018

Makalah penerapan pengembangan kemampuan kognitif di PAUD


BAB I
PENDAHULUAN

 
A.      Latar Belakang
Menurut Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, Bab II Pasal 3 Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan dalam rangka mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan yang luar biasa itu tentunya akan terwujud manakala dilakukan usaha yang terprogram dengan baik, dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan.
Salah satu usaha untuk mencapai hal di atas adalah melalui kegiatan pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Kita mengembangkan potensi anak didik mestinya sedini mungkin. Di tingkat non formal pengembangan potensi anak didik diawali pada PAUD. Salah satu materi yang digunakan untuk mengembangkan potensi anak didik adalah bidang pengembangan kognitif.
Karena luasnya bidang kognitif penulis memfokuskan pada bidang kognitif materi/ indikator Mencoba Dan Menceritakan Apa Yang Terjadi Jika Benda-Benda Didekatkan Dengan Magnet. Pada PAUD Sri Mawar dalam kegiatan mencoba dan menceritakan apa yang terjadi jika benda-benda didekatkan dengan magnet semua anak berminat. Harapan peneliti/observer guru/pendidik dalam memberikan bimbingan lebih dioptimalkan.
Program S1 PAUD STKIP Pancasakti menargetkan lulusannya menjadi tenaga pendidik yang profesional yaitu yang dapat mengembangkan program PAUD dan membuat inovasi-inovasi, salah satu mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa adalah Analisis Kegiatan Pengembangan Anak Usia Dini.
Dalam rangka memenuhi tugas-tugas dalam mata kuliah tersebut telah dilakukan penelitian di PAUD Sri Mawar yang bertujuan mengumpulkan data mengenai kegiatan-kegiatan anak yang dianggap perlu diteliti lebih lanjut untuk selanjutnya dianalisis secara kritis.

B. Rumusan Masalah
            Adapun rumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana kondisi objektif perkembangan anak usia dini di PAUD ?
2.      Bagaimana kegiatan pengembangan yang dilakukan di PAUD?
3.      Bagaimana penerapan pengembangan kemampuan kognitif di PAUD ?

C. Tujuan Penelitian
Analisis ini bertujuan :
  1. Mengumpulkan data mengenai :
a.    Alasan pendidik melakukan pembelajaran mencoba dan menceritakan apa yang terjadi jika benda-benda didekatkan dengan magnet.
b.    Tujuan pendidik melakukan pembelajaran tersebut.
  1. Menyusun hasil penelitian secara representatif.
  2. Membuat analisis kritis mengenai pembelajaran mencoba dan menceritakan apa yang terjadi jika benda-benda didekatkan dengan magnet..

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini mempunyai manfaat yang sangat baik diantaranya :
  1. Memberi masukan terhadap pemangku kepentingan di PAUD  dalam upaya mengembangkan potensi anak didik.
  2. Melatih penulis melalukan observasi dan wawancara dalam rangka mengumpulkan, menganalisis dan menyusun laporan hasil penelitian.
  3. Mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam menganalisa suatu kegiatan anak di lembaga PAUD.
BAB II
LANDASAN TEORI

 
A. Kerangka Teori
A. Hakikat Perkembangan Anak Usia Dini
Perkembangan merupakan suatu proses yang bersifat kumulatif, artinya perkembangan terdahulu akan menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya. Oleh sebab itu, apabila terjadi hambatan pada perkembangan terdahulu maka perkembangan selanjutnya cenderung akan mendapat hambatan (Jamaris dalam Sujiono, 2009:54).
Anak usia dini berada dalam masa keemasan di sepanjang rentang usia perkembangan manusia. Montessori dalam Hainstock (1999:10-11) mengatakan bahwa masa ini merupakan periode sensitif, selama masa inilah anak secara khusus mudah menerima stimulus-stimulus dari lingkungannya. Pada masa ini anak siap melakukan berbagai kegiatan dalam rangka memahami dan menguasai lingkungannya.
Selanjutnya Montessori menyatakan bahwa usia keemasan merupakan masa di mana anak mulai peka untuk menerima berbagai stimulasi dan berbagai upaya pendidikan dari lingkungannnya baik disengaja maupun tidak disengaja. Pada masa inilah terjadi pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis sehingga anak siap merespons dan mewujudkan semua tugas-tugas perkembangan yang diharapkan muncul pada pola perilakunya sehari-hari (Hainstock dalam Sujiono, 2009:54).  
Awal masa kanak-kanak merupakan periode yang bahagia dalam kehidupan. Kalau tidak, kebiasaan tidak bahagia dengan mudah akan berkembang, dan sekali ini terjadi akan sulit dirubah. Berikut merupakan tugas-tugas perkembangan untuk anak usia dini (Hurlock, 1991: 140).
a.    Awal masa kanak-kanak yang berlangsung dari dua sampai enam tahun, oleh  orang tua disebut sebagai usia yang problematis, menyulitkan atau mainan; oleh para pendidik dinamakan sebagai usia prasekolah; dan oleh ahli psikologi sebagai usia prakelompok, penjelajah atau usia bertanya.
b.    Perkembangan fisik berjalan lambat tetapi kebiasaan fisiologis yang dasarnya diletakkan pada masa bayi, menjadi cukup baik.
c.    Awal masa kanak-kanak dianggap sebagai saat belajar untuk mencapai pelbagai keterampilan karena anak senang mengulang, hal mana penting untuk belajar keterampilan; anak pemberani dan senang mencoba hal-hal baru; dan karena hanya memiliki beberapa keterampilan maka tidak mengganggu usaha penambahan keterampilan baru.
d.   Perkembangan berbicara berlangsung cepat, seperti terlihat dalam perkembanganya pengertian dan berbagai keterampilan berbicara. Ini mempunyai dampak yang kuat terhadap jumlah bicara dan isi pembicaraan.
e.    Perkembangan emosi mengikuti pola yang dapat diramalkan, tetapi terdapat keanekaragaman dalam pola ini karena tingkat kecerdasan, besarnya keluarga, pendidikan anak dan kondisi-kondisi lain.
B. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif sering diidentikkan dengan perkembangan kecerdasan. Perkembangan kognitif merupakan dasar bagi perkembangan intelegensi pada anak. Pada anak usia dini pengetahuan masih bersifat subjektif, dan akan berkembang menjadi objektif apabila sudah mencapai perkembangan remaja dan dewasa. Hal tersebut senada dengan observasi yang telah dilakukan Piaget yang mengemukakan bahwa “Anak mampu mendemontrasikan berbagai pengaruh mengenai relativitas dunia sejak lahir hingga dewasa”. (Yudha dan Rudyanto, 2004:199).
            Kemampuan kognitif seseorang berkaitan dengan bagaimana individu dapat mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai dan memikirkan lingkungannya. “Perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembagan manusia yang berkaitan dengan pengertian (pengetahuan), yaitu semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya” (Desmita, 2005:103).
Perkembangan kognitif menurut Piaget (Aisyah et al, 2008:5-6) terjadi melalui suatu proses yang disebut adaptasi. Adaptasi merupakan penyesuaian terhadap tuntutan lingkungan dan intelektual melalui dua hal yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan proses yang anak upayakan untuk menafsirkan pengalaman barunya yang didasarkan pada interpretasinya saat sekarang mengenai dunianya. Akomodasi terjadi dimana anak berusaha untuk menyesuaikan keberadaan struktur pikiran dengan sejumlah pengalaman baru.
Menurut Piaget (Desmita, 2005:103) “….anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Anak tidak pasif menerima informasi, melainkan berperan aktif di dalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas”. Jika anak ingin mengetahui sesuatu, mereka harus membangun pengetahuan tersebut sendiri. Pembelajaran yang diharapkannya adalah pembelajaran yang aktif, dimana peran guru sebagai penyedia bahan-bahan yang sesuai, seperti ruangan serta petunjuk-petunjuk yang mendorong anak untuk menemukan sendiri.
Perkembangan kognitif muncul dari konteks kerjasama atau kolaborasi atau dialog antara orang yang lebih ahli dengan mencontohkan kegiatan dan menyampaikan pelajaran secara verbal. Pembelajaran diterapkan dengan partisipasi terbimbing dari guru atau orang yang lebih ahli. Pembelajaran yang diberi dorongan dari orang yang lebih ahli cenderung menghasilkan pemahaman yang lebih. Pemberian dorongan atau bantuan harus dilakukan dengan hati-hati, disesuaikan dengan situasi pembelajaran agar meningkatkan pemahaman tentang suatu masalah.
Dalam kaitan ini ada dua istilah yang memiliki kemiripan ucapan sering dipergunakan dalam keseharian yakni intelek dan intelegensi. Menurut Sujiono, dkk. yang dimaksud dengan intelek adalah berpikir sedangkan yang dimaksud dengan intelegensi adalah kemampuan kecerdasan. Peaget (1983) mengatakan bahwa kegiatan belajar memerlukan kesiapan dari dalam diri anak. Artinya belajar adalah suatu proses membutuhkan aktifitas baik fisik/psikis yang disesuaikan dengan perkembangannya.
Menurut Patmodewono, (2000) kognitif adalah pengertian yang luas mengenai cara berpikir dan mengamati. Jadi merupakan tingkah laku yang mengakibatkan seseorang memperoleh pengetahuan atau menggunakan pengetahunan yang diperolehnya.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

 
A.      Kesimpulan
Dari tabulasi dan analisis data dapat disimpulkan beberapa hal yaitu sebagai berikut :
  1. PAUD mempunyai program mengembangkan kemampuan memahami konsep sains sederhana dengan mengamati, menyelidiki dan melakukan percobaan benda-benda didekatkan dengan magnet dan menceritakan yang terjadi sehingga anak aktif mencari tahu atau menemukan jawaban yang ada di dunia sekitar secara alamiah.
  2. Anak mencoba dan menceritakan apa yang terjadi jika benda-benda didekatkan dengan magnet yang dilakukan dengan suasana senang. Berarti anak mampu melakukan eskplorasi terhadap dunia sekitar melalui panca indera. Anak secara bergantian menggunakan alat dan mampu membereskan kembali ke tempat semula.
  3. Kegiatan tersebut dapat merangsang perkembangan sosial, emosional, fisik motorik, kognitif, kreativitas dan berpikir kritis.

B. Saran-Saran
Hendaknya guru senantiasa mengembangkan kemampuan kognitif dalam memahami konsep-konsep sains sederhana sejak dini melalui pengamatan dan percobaan dengan magnet, dapat menstimulasi kegiatan belajar kognitif, dapat merangsang aspek perkembangan sosial emosional, kreativitas sehingga anak akan selalu berpikir kritis.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Aisyiyah, Siti, dkk. 2007. Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta : Universitas Terbuka.

Gunarti, Windia, dkk. 2008. Metode Pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini. Jakarta : Universitas Terbuka.

Nasution. (2003). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Transito

Redaksi Sinar Grafika. 2003. Undang-Undang Sisdiknas 2003 UU RI No. 20 Th. 2003. Jakarta : Sinar Grafika.

Sujiono, Yuliani Nuraeni, dkk. 2005. Metode Pengembangan Kognitif. Jakarta : Universitas Terbuka.

Sujiono, Y. (2009). Konsep Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Indeks
                                                       
Tim PG PAUD Universitas Terbuka. 2008. Analisa Kegiatan Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Universitas Terbuka.



 





No comments:

Post a Comment

About