Beranda

Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts

Thursday, February 20, 2020

RESENSI BUKU PSIKOLOGI PENDIDIKAN


LAPORAN BUKU







IDENTITAS BUKU

Judul Buku                  : Psikologi Pendidikan
ISBN                           : 979-421-082-x
Nama Pengarang         : Drs. Sumadi Suryabrata, B.A.M.A.Ed.S., Ph.D
Penerbit                      : PT. Rajagrafindo (Rajawali Pers)
Cet/Edisi                     : Edisi 5 Cet 19
Tahun Terbit               : 2012
Bahasa                        : Indonesia
Jumlah Halaman         : xvi, 354 halaman
Tebal Buku                 : 21 cm
Kertas                         : HVS
Cover                          : Soft
Berat                           : 400 gram
Harga                          : Rp. 55.000   




SINOPSIS BUKU
            Tidak dapat diragukan lagi bahwa sejak anak manusia yang pertama lahir ke dunia, telah ada dilakukan usaha-usaha pendidikan, manusia telah berusaha mendidik anak-anaknya. Kendatipun dalam cara yang sangat sederhana. Demikian pula semenjak manusia saling bergaul, telah ada usaha-usaha dari orang-orang yang lebih mampu dalam hal-hal tertentu untuk mempengaruhi orang-orang lain teman bergaul mereka, untuk kepentingan kemajuan orang-orang bersangkutan itu.
            Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami sesama manusia, dengan tujuan untuk dapat memperlakukannya dengan lebih tepat. Karena itu pengetahuan psikologis mengenai anak didik dalam proses pendidikan adalah hal yang perlu dan penting bagi setiap pendidik, sehingga seharusnya adalah kebutuhan setiap pendidik untuk memiliki pengetahuan tentang psikologi pendidikan.
            Dalam proses pendidikan pada hakikatnya inti persoalan psikologis terletak pada anak didik, sebab pendidikan adalah perlakuan terhadap anak didik dan secara psikologis perlakuan ini harus selaras mungkin dengan keadaan anak didik. Selain itu masih terdapat beberapa masalah khusus yang juga perlu penyorotan secara psikologis, seperti soal pendidikan orang dewasa, kesehatan mental serta bimbingan dan konseling materi yang dipakai, evaluasi hasil pendidikan dan sebagainya.
Buku ini menyajikan studi psikologis yaitu studi tentang aktivitas individu-individu (dalam arti tingkah laku yang tampak dan aktivitas serta pengalaman batin) dalam proses pendidikan dengan anak didik sebagai pusatnya. Adapun soal-soal psikologis yang berperan dalam proses pendidikan ini dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok.
Kelompok pertama yang bersumber pada peninjauan individu dalam statusnya sebagai anak didik, yaitu anak didik dalam situasi pendidikan. Peninjauan ini dapat dikatakan peninjauan status. Dalam kelompok ini dapat tercakup hal-hal berikut :
1.     Sifat-sifat yang umum aktivitas manusia, ditinjau secara psikologis. Pada anak didik beraktivitas dalam cara-cara yang seperti dilakukan oleh manusia-manusia lain pada umumnya.
2.     Di samping aktivitas-aktivitas yang bersifat umum, pada para anak didik didapatkan sifat-sifat individual yang khas. Misalnya ada anak yang sudah cukup diisyarati saja untuk menghentikan perbuatannya yang kurang layak.
3.     Selain ditemukan perbedaan antara individu yang satu dan individu yang lain dalam hal kepribadian mereka masih ditemukan adanya sifat-sifat individual yang lain yang khas. Saah satu sifat yang besar peranannya dalam proses pendidikan adalah sifat khas yang berasal pada intelegensi.
4.     Masih ada satu sifat khas lagi pada individu yang besar peranannya terutama pendidikan di atas tingkat pendidikan dasar dan juga pada pendidikan kejuruan dan pendidikan orang dewasa. Apa yang dimaksud disini adalah bakat. Telah diakui bahwa antara individu yang satu dengan individu yang lain terdapat perbedaan dalam bakat.

Kelompok kedua bersumber pada peninjauan individu dalam proses pendidikan. Kita ketahui bahwa individu sebenarnya tidak pernah ada dalam keadaan statis, artinya sebenarnya selalu terjadi perubahan di dalam dirinya. Di dalam proses pendidikan justru perubahan inilah yang menjadi pokok persoalan. Pendidikan berusaha merangsang dan memberi arah perubahan ini sesuai dengan cita-cita pendidikan yang menjadi pedoman usaha itu.
Kelompok ketiga akan mencakup hal-hal yang bersifat lebih khusus, yaitu masalah psikologis dalam bimbingan dan konseling. Masalah khusus yang lainnya tentang individu-individu yang tidak dapat mengikuti pendidikan biasa. Tentu saja masyarakat dan terlebih-lebih para pendidik tidak dapat mengabaikan masalah ini.
Buku ini tumbuh dan mengalami perbaikan-perbaikan dalam pengalaman penulis sebagai tenaga pengajar di berbagai perguruan tinggi. Namun, perlulah ditekankan bahwa pendorong utama untuk menyajikan tulisan ini kepada umum sekali-kali bukanlah pretense keahlian, melainkan keinginan untuk memberikan sumbangsih kepada dunia psikologi Indonesia, dengan menyajikan sumber dalam Bahasa Indonesia.
            Pada hakikatnya inti persoalan psikologi pendidikan terletak pada anak didik, sebab pendidikan adalah perlakuan terhadap anak didik yang secara psikologis perlakuan tersebut harus selaras dengan keadaan anak didik. Dengan demikian permasalahan psikologis yang berperan dalam proses pendidikan anak dapat terjawab apabila pendidik dapat memberikan bantuan kepada anak didik agar berkembang secara wajar melalui bimbingan dan konseling, pemberian bahan pelajaran yang berstruktur dan berkualitas. Kemampuan pendidik tersebut di atas mendesak untuk dimiliki oleh pendidik, selain kemampuan pendidik dalam memahami hukum-hukum psikologis mengenai anak pada umumnya.
            Cara pendekatan yang dipakai untuk menyajikan buku ini adalah operasional, berpangkal pada “proses pendidikan”. Cara ini ditempuh dengan maksud supaya sebagai ilmu pengetahuan amaliah, Psikologi Pendidikan benar-benar memenuhi fungsinya.
            Sesuai dengan dasar pandangan bahwa pada hakikatnya pendidikan itu berlangsung sepanjang hidup manusia maka persoalan psikologis yang bersangkutan dengan pendidikan luas sekali. Berpangkal pada cara pendekatan operasional seperti telah dikemukakan di atas, maka isi buku tersebut bersifat merangkum, mencakup hampir semua persoalan psikologis di dalam praktik pendidikan. Konsekuensi dari hal ini, banyak hal yang terpaksa dibicarakan pokok-pokoknya saja, bagi mereka yang ingin mendapatkan pengetahuan yang lebih mendalam dapat mencarinya pada sumber-sumber yang disertakan pada bagian akhir masing-masing bab.
Pada setiap akhir penyajian mengenai suatu unit disertakan catatan-catatan praktis, dipandang dari segi praktik pendidikan. Hal ini dimaksudkan sebagai ancer-ancer dalam pengalaman prinsip-prinsip psikologis yang selesai disajikan itu dalam praktik pendidikan. Namun perlulah dikemukakan harapan hendaklah catatan-catatan tersebut jangan dinilai berlebih-lebihan, nilainya tidak lebih dari salah satu ancer-ancer yang sifatnya sangat umum.
Buku dengan tebal 354 halaman ini terbagi menjadi 8 Bab. Bab I sampai bab V menyajikan tinjauan psikologis mengenal manusia dalam sutuasi pendidikan. BAB VI sampai BAB VIII menyajikan tinjauan psikologis mengenai manusia dalam proses pendidikan.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
-        KELEBIHAN
Buku Psikologi Pendidikan ini adalah salah satu buku psikologi yang ditulis secara komprehensif dan solid, baik secara konseptual maupun teoretis. Hal inilah yang menyebabkan buku ini menjadi referensi berbagai kalangan mahasiswa, pendidik/dosen dan kalangan lain yang berkecimpung dalam permasalahan psikologi pendidikan.
-        KEKURANGAN
Dalam buku ini belum menyajikan problem-problem khusus yang terjadi dalam lingkungan pendidikan.


Pengertian Permainan Tradisional



            Permainan tradisonal merupakan simbolisasi dari pengetahuan yang turun temurun dan mempunyai bermacam-macam fungsi atau pesan di baliknya, di mana pada prinsipnya permainan anak tetap merupakan permainan anak. Dengan demikian bentuk atau wujudnya tetap menyenangkan dan menggembirakan anak karena tujuannya sebagai media permainan. Aktivitas permainan yang dapat mengembangkan aspek-aspek psikologis anak dapat dijadikan sarana belajar sebagai persiapan menuju dunia orang dewasa. Permaianan digunakan sebagai istilah luas yang mencakup jangkauan kegiatan dan prilaku yang luas serta mungkin bertindak sebagai ragam tujuan yang sesuai dengan usia anak. Menurut Pellegrini dalam Naville Bennet  bahwa permainan didefinisikan menurut tiga matra sebagai berikut: (1) Permainan sebagai kecendrungan, (2) Permainan sebagai konteks, dan (3) Permainan sebagai prilaku yang dapat diamati.
Menurut Mulyadi bermain secara umum sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan secara spontan yang terdapat lima pengertian bermain; (1) sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai intrinsik pada anak (2) tidak memiliki tujuan ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat intrinsik (3) bersifat spontan dan sukarela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak serta melibatkan peran aktif keikutsertaan anak, dan (4) memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan seuatu yang bukan bermain, seperti kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial.
Permainan tradisonal merupakan simbolisasi dari pengetahuan yang turun temurun dan mempunyai bermacam-macam fungsi atau pesan di baliknya, di mana pada prinsipnya permainan anak tetap merupakan permainan anak.Dengan demikian bentuk atau wujudnya tetap menyenangkan dan menggembirakan anak karena tujuannya sebagai media permainan.Aktivitas permainan yang dapat mengembangkan aspek-aspek psikologis anak dapat dijadikan sarana belajar sebagai persiapan menuju dunia orang dewasa.
Permainan tradisional merupakan warisan antar generasi yang mempunyai makna simbolis di balik gerakan, ucapan, maupun alat-alat yang digunakan.Pesan-pesan tersebut bermanfaat bagi perkembangan kognitif, emosi dan sosial anak sebagai persiapan atau sarana belajar menuju kehidupan di masa dewasa.Pesatnya perkembangan permainan elektronik membuat posisi permainan tradisional semakin tergerus dan nyaris tak dikenal. Memperhatikan hal tersebut perlu usaha-usaha dari berbagai pihak untuk mengkaji dan melestarikan keberadaannya melalui pembelajaran ulang pada generasi sekarang melalui proses modifikasi yang disesuaikan dengan kondisi sekarang (Fajarwati, 2008: 2).
Permainan digunakan sebagai istilah luas yang mencakup jangkauan kegiatan dan prilaku yang luas serta mungkin bertindak sebagai ragam tujuan yang sesuai dengan usia anak. Menurut Pellegrini (1991: 241) dalam Naville Bennet (1998: 5-6) bahwa permainan didefinisikan menurut tiga matra sebagai berikut; (1) permainan sebagai kecendrungan, (2) permainan sebagai konteks, dan (3) permainan sebagai prilaku yang dapat diamati.
Permainan tidak lepas dari pada adanya kegiatan bermain anak, sehingga istilah bermain dapat digunakan secara bebas, yang paling tepat adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan, bermain dilakukan secara suka rela oleh anak tanpa ada pemaksaan atau tekanan dari luar. Menurut Hurlock (2006: 320), secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu aktif dan pasif.
Menurut Mulyadi (2004: 30) bermain secara umum sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan secara spontan yang terdapat lima pengertian bermain:
1)    Sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai intrinsik pada anak.
2)    Tidak memiliki tujuan ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat intrinsik.
3)    Bersifat spontan dan sukarela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak serta melibatkan peran aktif keikutsertaan anak.
4)    Memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan seuatu yang bukan bermain, seperti kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial.
Oleh karena itu, bahwa permainan tradisional disini adalah permainan anak-anak dari bahan sederhana sesuai aspek budaya dalam kehidupan masyarakat (Sukirman D, 2008:19).Permainan tradisional juga dikenal sebagai permainan rakyat merupakan sebuah kegiatan rekreatif yang tidak hanya bertujuan untuk menghibur diri, tetapi juga sebagai alat untuk memelihara hubungan dan kenyamanan sosial.
Dalam hal ini, permainan merupakan alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya, dari yang tidak dia ketahui sampai pada yang dia ketahui dan dari yang tidak dapat diperbuatnya, sampai mampu melakukannya.Dengan demikian bermain suatu kebutuhan bagi anak.Dengan merancang pelajaran tertentu untuk dilakukan sambil bermain yang sesui dengan taraf kemampuannya.  Jadi bermain bagi anak mempunyai nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari termasuk dalam permainan tradisional.
Menurut Bennet (1998:46) dengan ini diharapkan bahwa permainan dalam penddikan untuk anak usia dini ataupun anak sekolah terdapat pandangan yang jelas tentang kualitas belajar, hal ini diindikasikan sebagai berikut:
1.     Gagasan dan minat anak merupakan sesuatu yang utama dalam permainan
2.     Permainan menyediakan kondisi yang ideal untuk mempelajari dan meningkatkan mutu              pembelajaran
3.     Rasa memiliki merupakan hal yang pokok bagi pembelajaran yang diperoleh melalui permainan
4.     Pemebelajaran menjadi lebih relevan bila terjadi atas inisiatif sendiri.
5.     Anak akan mempelajarai cara belajar dengan permainan serta cara mengingat pelajaran dengan baik
6.     Pembelajaran dengan permainan terjadi dengan gampang, tanpa ketakutan
7.     dan permainan mumudahkan para guru untuk mengamti pembelajaran yang sesungguhnya dan siswa akan mengalami berkurangnya frustasi belajar. Permainan bagi anak merupakan bagian yang sedemikian diterimanya dalam kehidupannya sekarang sehingga hanya sedikit orang yang ragu-ragu mempertimbangkan arti pentingnya dalam perkembangan anak.
Oleh karena itu, bahwa permainan tradisional disini adalah permainan anak-anak dari bahan sederhana sesuai aspek budaya dalam kehidupan masyarakat. Permainan tradisional juga dikenal sebagai permainan rakyat merupakan sebuah kegiatan rekreatif yang tidak hanya bertujuan untuk menghibur diri, tetapi juga sebagai alat untuk memelihara hubungan dan kenyamanan sosial. Dengan demikian bermain suatu kebutuhan bagi anak. Jadi bermain bagi anak mempunyai nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari termasuk dalam permainan tradisional. Menurut Bennet dengan ini diharapkan bahwa permainan dalam penddikan untuk anak usia dini ataupun anak sekolah terdapat pandangan yang jelas tentang kualitas belajar, hal ini diindikasikan sebagai berikut: (1) gagasan dan minat anak merupakan sesuatu yang utama dalam permainan, (2) permainan menyediakan kondisi yang ideal untuk mempelajari dan meningkatkan mutu pembelajaran, (3) rasa memiliki merupakan hal yang pokok bagi pembelajaran yang diperoleh melalui permainan, (4) anak akan mempelajarai cara belajar dengan permainan serta cara mengingat pelajaran dengan baik, (5) pembelajaran dengan permainan terjadi dengan gampang, tanpa ketakutan, (6) permainan mumudahkan para guru untuk mengamti pembelajaran yang sesungguhnya dan siswa akan mengalami berkurangnya frustasi belajar.
Permainan tradisional menurut Danandjaja (1987) adalah salah satu bentuk yang berupa permainan anak-anak, yang beredar secara lisan di antara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional dan diwarisi turun temurun serta banyak mempunyai variasi. Sifat atau cirri dari permainan tradisional anak sudah tua usianya, tidak diketahui asal-usulnya, siapa penciptanya dan darimana asalnya. Biasanya disebarkan dari mulut ke mulut dan adang-kadang mengalami perubahan nama atau bentuk meskipun dasarnya sama. Jika dilihat dariakar katanya, permainan tradisional tidak lain adalah kegiatan yang diatur oleh suatu peraturan permainan yang merupakan pewarisan dari generasi terdahulu yang dilakukan manusia (anak-anak) dengan tujuan mendapat kegembiraan.
Menurut Atik Soepandi, Skar dkk. (1985-1986), permainan adalah perbuatan untuk menghibur hati baik yang mempergunakan alat ataupun tidak mempergunakan alat. Sedangkan yang dimaksud tradisional adalah segala sesuatu yang dituturkan atau diwariskan secara turun temurun dari orang  tua atau nenek moyang. Jadi permainan tradisional adalah segala perbuatan baik mempergunakan alat atau tidak, yang diwariska secara turun temurun dari nenek moyang, sebagai sarana hiburan atau untuk menyenangkan hati.
Permainan tradisional ini bisa dikategorikan dalam tiga golongan, yaitu : permainan untuk bermain (rekreatif), permainan untuk bertanding (kompetitif) dan permainan yang bersifat edukatif. Permainan tradisional yang bersifat rekreatif pada umumnya dilakukan untuk mengisi waktu luang. Permainan tradisional yang bersifat kompetitif, memiliki ciri-ciri : terorganisir, bersifat kompetitif, diainkan oleh paling sedikit 2 orang, mempunyai criteria yang menentukan siapa yang menang dan yang kalah, serta mempunyai peraturan yang diterima bersama oleh pesertanya. Sedangkan perainan tradisional yang bersifat edukatif, terdapat unsur-unsur pendidikan di dalamnya. Melalui permainan seperti ini anak-anak diperkenalkan dengan berbagai macam ketrampilan dan kecakapan yang nantinya akan mereka perlukan dalam menghadapi kehidupan sebagai anggota masyarakat. Berbagai jenis dan bentuk permainan pasti terkandung unsur pendidikannya. Inilah salah satu bentuk pendidikan yang bersifat non-formal di dalam masyarakat. Permainan jenis ini menjadi alat sosialisasi untuk anak-anak agar mereka dapat menyesuaikan diri sebagai anggota kelompok sosialnya.

Makalah Disfungsi Minimal Otak


BAB I
PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang
Perilaku bermasalah yang muncul sebagai akibat dari kesulitan belajar sangat bervariasi sesuai dengan spesifikasi kesulitan itu. Namun demikian, secara umum perilaku bermasalah yang muncul dari kesulitan belajar terutama akan terkait dengan masalah penyesuaian diri maupun akademik anak, hubungan sosial, dan stabilitas emosi. Bagi keluarga, kondisi anak seperti itu dapat menimbulkan kekhawatiran orang tua, apalagi jika orang tua tidak memahami masalah yang dialami anaknya. Bagi penyelenggara pendidikan, perilaku bermasalah karena kesulitan belajar menimbulkan dampak terhadap perlunya penempatan dan pelayanan khusus.
Anak-anak dengan kesulitan belajar karena retardasi mental lebih mudah dideteksi/dikenal, dan untuk anak-anak ini telah ada wadahnya yaitu Sekolah Pendidikan Luar Biasa C. Lagi pula gangguan fungsi sistem sarafnya lebih difus, mencakup hampir semua fungsi kortikal, sehingga tidak akan disinggung dalam makalah ini. Problema emosional primer yang merupakan penyebab lain dari kesulitan belajar merupakan bidang psikologi/psikiatri. Yang akan dibahas dalam tulisan ini ialah anak-anak dengan kesulitan belajar tertentu/spesifik, yang disebabkan karena gangguan pada beberapa fungsi sistem saraf pusat atau lebih terkenal dengan nama Minimal Brain Dysfunction (M .B .D), atau Disfungsi Otak Minor (D.0.M.). Anak-anak dengan D.O.M. sering tidak terdiagnosis, sehingga tidak mendapat penanganan yang semestinya. Ini mengakibatkan timbulnya problema sosial dan emosional sekunder. Bila hal ini terjadi, maka akan merupakan problema hidup (life disability),dimana penanganan akan lebih kompleks.



1.2    Rumusan Masalah                                            
a.      Apa pengertian Disfungsi Minimal Otak ?
b.     Bagaimana mendeteksi DMO yang tak terlihat?
c.      Mengapa Anak DMO menjadi kesulitan dalam belajar?
d.     Bagaimana cara mengenal anak DMO yang mengalami kesulitan belajar?

1.3    Tujuan Permasalahan
a.           Untuk mengetahui pengertian Disfungsi Minimal Otak.
b.          Untuk mengetahui cara mendeteksi DMO yang tak terlihat.
c.           Untuk mengetahui anak DMO yang menjadi kesulitan dalam belajar.
d.          Untuk mengetahui cara mengenal anak DMO yang mengalami kesulitan belajar.






BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Disfungsi Minimal Otak
Disfungsi Minimal Otak (DMO) sering menyebabkan seorang anak mengalami kesulitan belajar disekolah, padahal mereak mempunyai IQ yang normal atau lebih tinggi. Mereka juga sering mendapatkan hukuman karena perilakunya. Bahkan, tidak jarang anak dengan DMO kemudian dikirim ke Sekolah Luar Biasa, khusu untuk anak dengan ketrbelakangan mental. Merka juga sering mendapatkan perlakukan yang tidak semestinya, oleh karena itu, deteksi dini DMO pada usia dini sangat penting demi tercapainya perkembangan anak yang optimal.
Manifestasi klinis DMO dapat bermacam-macam, tetapai tidak semuanya terdapat pada seorang anak yang menderita DMO, namun berikut ini yang sering dijumpai
a.      Ganguan Membaca, kemampuan anak dalam membaca lambat, pada saat membaca dieja kata demi kata dan serba ragu-ragu, dana membaca kurang berirama.
b.     Gangguan Berhitung, kurang dari 60 % anak-anak yang mengalai disleksia juga mengalami ganguan berhitung. hal ini disebabkan anak mengalami kesulitan dalam membedakan + dari tanda x, membedakan-, : , dan =, serta membedakan <  dan >.
c.      Pengertian arah yang kabur, Anak sulit membedakan kanan dan kiri, atas dan bawah, puncak dan dasar.
d.     Sulit menyebutkan waktu, Anak dengan DMO sering sulit menyebutkan waktu, apakah saat ini pagi, siang, sore, atau malam. mereka juga mengalamu kesulitan membaca jam dengan tepat. Jarum jam pendek dan jarum jam panjang sering dibaca terbalik.
e.      Keterampilan motorik lambat berkembang, misalnya anak berusia 5 tahun masih belum bisa mengikat tali sepatunya sendiri, belum bisa mengancingkan baju sendiri.
f.      Kemampuan Mengenal ruang terbatas, Kemampuan mengenal ruangan ini bisa sangat buruk, atau sebaliknya bisa sangat baik, hal buruk misalnya, ia tidak dapat menggambar lingkaran, tidak dapat mewarnai gambar dengan baik, tidak dapat mengguntung kertas sedangkan kemampuanya baik akan pandai dalam geometri, main catur, dan video game.
g.     Kemampuan memberi nama kepada barang atau orang terganggu, Bila kita memperlihatkan suatu benda yang sudah dikenal anak, kadang-kadang ia tak dapat menyebutkan namanya.
h.     Kidal, Setiap melakukan kegiatan, bagian tangan yang dominan adalah tangan kiri, berarti kedua tangan anak itu sama terampil.
i.       Ganguan bicara, Masa perkembangan anak bisa berbicara agak terlambat, atau anak tetap berbicara seperti anak kecil.
j.       Ganguan gerakan motorik, Anak mulai bisa berjalan terlambat, kadang-kadang terdapat ganguan koordinasi motorik, misalnya kurang keseimbangan pada sat berjalan, sulit berdiri di atas satu kaki, sulit melakukan loncat tali.
k.     IQ normal atau lebih tinggi dari rata-rata, Bila dilakukan tes IQ maka anak-anak DMO terkadang menunjukan traf IQ normal atau di atas normal.

2.2 Deteksi DMO yang tersembunyi/Tidak Terlihat
      Manifestasik diatas tidak senantiasa terlihat jelas, namun tetap perlu diketahui ciri-ciri DMO yang tersembunyi, antara lain :
a.      Daya konsentrasi yang buruk, Anak tidak dapat memusatkan perhatianya pada suatu masalah untuk waktu yang cukup lama, ia tidak tekun dalam menyelesaikan tugas, sering berjalan mondar-mandir di dalam kelas sekalipun sedang ada pelajaran.
b.     Kesulitan menyalin tulisan di papan tulis, bila menyalin tulisan dari papn tulis sering terdapat kata terlewat, salah eja dan tempo yang terlambat, kalau mencatat jarang sampai selesai.
c.      Susah diatur, Terlambat berangkat sekolah, terlambat mengikuti pelajaran jika pelajaran pindah ke ruangan lain karena mengalami kesulitan menemukan ruang kelasnya di jauhi teman-temanya, Anak sering di olok-olok atau di ejek karena kelakuanya yang aneh
d.     Pengendalian diri kurang, anak mudah bereaksi atau implusif, cepat marah, gampang tersinggung, tidak tahan godaan atau gurauan dari teman.

2.3 Anak DMO Mengakibatkan Kesulitan Belajar
Anak berkesulitan belajar tidak termasuk ke dalam kelompok anak luar biasa. Mereka termasuk ke dalam kelompok tersendiri yang disebut learning disabilities atau berkesulitan belajar atau ketakcakapan belajar. Siapakah anak berkesulitan belajar itu? Tidak kurang dari 40 istilah telah diusulkan untuk menggambarkan atau merujuk kepada apa yang disebut dengan anak berkesulitan belajar. Banyak istilah yang sering digunakan di dalam berbagai literatur untuk merujuk anak yang mengalami kesulitan belajar khusus antara lain sebutan tersebut yaitu attention deficit disorder, clumsy child syndrome, perceptual handicap, brain injury, minimal brain dysfunction, dyslexia, dyslogic syndrome, learning disorder, educational handicap, mild handicap, neurological impairment, hyperactivity,dan hyperkinesis.(T. Sutjihati. S, 2007: 194)
Kesulitan belajar lebih didefinisikan sebagai gangguan perseptual, konseptual, memori, maupun ekspresif di dalam proses belajar. Kendatipun gangguan ini bisa terjadi di dalam berbagai tingkatan kecerdasan, namun ‘kesulitan belajar’ lebih terkait dengan tingkat kecerdasan normal atau bahkan di atas normal. Anak-anak yang berkesulitan belajar memiliki ketidakteraturan dalam proses fungsi mental dan fisik yang bisa menghambat alur belajar yang normal, menyebabkan keterlambatan dalam kemampuan perseptual-motorik tertentu atau kemampuan berbahasa. Umumnya masalah ini tampak ketika anak mulai mempelajari mata-mata pelajaran dasar seperti menulis, membaca, berhitung, dan mengeja. Jadi, kesulitan belajar merupakan istilah generic yang merujuk kepada keragaman kelompok yang mengalami gangguan di mana gangguan tersebut diwujudkan dalam kesulitan-kesulitan yang signifikan yang dapat menimbulkan gangguan proses belajar  (T. Sutjihati. S, 2007: 195-196).
Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.
a.         Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh: siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
b.      Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
c.         Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
d.        Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
e.         Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
Siswa yang mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif . Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :
1.    Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
2.    Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
3.    Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
4.    Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.

2.4 CaraMengenal Anak didik yang Mengalami Kesulitan Belajar
Beberapa gejala sebagai pentujuk adanya kesulitan belajar anak didik dapat dilihat sebagai berikut.
1.    Menunjukan prestasi belajar yang rendah
2.    Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan.
3.    Anak didik lambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajar.
4.    Anak didik menunjukan sikap yang kurang wajar.
5.    Anak didik menunjukan tingkah laku yang tidak biasanya.
6.    Anak didik yang tergolong memiliki IQ, tetapi kenyataanya mereka mendapatkan prestasi belajar yang rendah.
7.   Anak didik yang selalu menunjukan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian mata pelajaran, tetapi dilain waktu prestasi belajarnya menurun.
Dari semua gejala kesulitan belajar dengan cara lain yaitu melakukan penyelidikan dengan cara:
a.    Obervasi
Observasi merupakan suatu cara memperoleh data dengan langsung mengamati terhadap objek.
b.    Interview
Interview merupakan suatu cara mendapatkan data dengan wawancara lansung terhadap orang yang diselidiki atau terhadap orang lain (guru, orang tua, atau teman akrab) yang dapat memberikan informasi tentang orang yang diselidiki.
c.    Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu cara untuk mengetahui sesuatu dengan melihat catatan-catatan, arsip-arsip, dokumen-dokumen, yang berhubungan dengan orang yang diselidiki.
Di antara dokumen anak didik yang perlu dicari adalah berhubungan dengan, riwayat hidup anak didik, kumpulan ulangan, catatan kesehatan anak didik, prestasi anak didik, buku rapor, buku pribadi anak didik, buku catatan semua mata pelajaran.  
d.   Tes Diagnostik
Tes ini dimaksudkan untuk mengetahui kesulitan belajar yang dialami anak didik berdasarkan hasil tes formatif sebelumnya.



BAB III
PENUTUP


A.  Kesimpulan
Disfungsi Minimal Otak (DMO) sering menyebabkan seorang anak mengalami kesulitan belajar disekolah, padahal mereka mempunyai IQ yang normal atau lebih tinggi. Mereka juga sering mendapatkan hukuman karena perilakunya. Bahkan, tidak jarang anak dengan DMO kemudian dikirim ke Sekolah Luar Biasa, khusus untuk anak dengan keterbelakangan mental.
Gangguan belajar pada anak merupakan suatu gangguan yang sangat kompleks baik penyebab maupun penanganannya. Untuk ini diperlukan satu tim terpadu, yang terdiri dari tenaga medis (dokter anak, psikiater anak, dokter rehabilitasi medik), psikolog, terapis wicara, terapis okupasi, fisioterapis dan tenaga pendidik/remedial yang dapat mengatasi permasalahan gangguan belajar ini secara komprehensif dan terpadu.

B.  Saran
     Mungkin inilah yang diwacanakan pada penulisan makalah ini meskipun penulisan ini jauh dari sempurna minimal kita mengimplementasikan tulisan ini. Masih banyak kesalahan dari penulisan makalah ini, karna kami manusia yang adalah tempat salah dan dosa: dalam hadits “al insanu minal khotto’ wannisa’, dan kami juga butuh saran/ kritikan agar bisa menjadi motivasi untuk masa depan yang lebih baik daripada masa sebelumnya.









DAFTAR PUSTAKA


Baihaqi,dan Sugiarmin. 2006. Memahami dan Membantu Anak ADHD. Bandung: Refika Aditama


Somantri, T. Sutjihati. 2007. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT. Refika Aditama.

Syah, Muhibbin. 2009. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Rers.



Tuesday, April 16, 2019

Contoh Pantun Teka Teki dan Jawabannya



Jikalau tuan tajuk cendana,
Ambil gantang jemurkan pala,
Jikalau tuan bijak bijaksana,
Binatan apa ekor di kepala?
(Jawabannya: Gajah)
Jikalau tuan tajuk cendana,
Ambil gantang sukatkan padi,
Jikalau tuan bijak bijaksana,
Binatang apa bertandung di kaki?
(Jawabannya: Ayam Jantan)
Jikalau tuan tajuk cendana,
Ambil gantang sukatkan pulut,
Jikalau tuan bijak bijaksana,
Binatang apa tandung di mulut?
(Jawabannya: Nyamuk)
Belayar perahu dari Berandan,
Menuju arah Selat Malaka,
Lebar kepala dari badan,
Apakah itu cobalah terkat?
(Jawabannya: Ikan pari)
Burung nuri burung dara,
Terbang ke sisi taman kayangan,
Cubalah cari wahai saudara,
makin diisi makin ringan,
(Jawabannya: Balon)
Hari-hari ke rumaha Cik Hitam,
Melihat orang memotong tebu,
Apa binatang darahnya hitam,
Janggut delapan tulangnya satu,
(Jawabannya: Ikan sontong)
Bukan kerang atau siput,
Berkaki bertangan bukannya kompot,
Terkelip-kelip duduk terseliput,
Merayap sepanjang di paya di rumput.
(Jawabannya: Penyu)
Berdengung bukannya kumbang,
Berbelalai bukannya gajah,
Kelam kabut saja terbang,
Hampir kepada kaum bernyawa.
(Jawabannya: Lebah penyengat/Lalat)
Diukur dijangka-jangka,
Burung merak burung angkasa,
Dengar tuan saya meneka,
Layang-layang gagah perkasa.
(Jawabannya: Kapal terbang)
Pak Pong Pak Mustafa,
Encik Dollah di rumahnya,
diadun tepung dengan kelapa,
Gula Jawa di tengahnya.
(Jawabannya: Kue malaka/Lompang)
Kalau tuan bawa keladi,
Bawa juga sipucuk rebung,
Kalau tuan bijak bestari,
Apa binatang tandung di hidung.
(Jawabannya: Badak)
Kalau tuan muda teruna,
Pakai seluar dengan gayanya,
Kalau tuan bijak laksana,
Biji di luar apa buahnya,
(Jawabannya: Buah Jambu Mede)
Kalau tuan pergi ke kedai,
Belikan saya si gula batu,
Kalau tuan orang yang pandai,
Apa binatang tulangnya satu.
(Jawabannya: Ikan sontong)
Walau dibungkus bukan kiriman,
Sudah takdir Allah yang satu,
Meski ditanam bukan tanaman,
Cubalah teka apakah itu?
(Jawabannya: Mayat/jenazah)
Ambil betik potongkan pisau,
Buah masak pokoknya rendah,
Kecil-kecil berbaju hitam,
Sudah besar berbaju merah,
(Jawabannya: Cabe merah)
Ada sebiji roda pedati,
Bentuknya bulat daripada besi
Bila bermain diikat sekuat hati
Dilempar hidup dipegang mati?
(Jawabannya: Gasing)
Buah budi bedara mengkal
Masak sebiji di tepi pantai
Hilang budi bicara akal
Buah apa yang tidak bertangkai?
(Jawabannya: Buah hati)
Kelap-kelip kusangka api
Kalau api mana asapnya? 
Hilang ghaib disangkakan mati
Kalau mati mana kuburnya?
(Jawabannya: Kilat di langit)
Budak-budak bermain batu
Batu dikira satu persatu
Badannya lurus bermata satu
Ekornya tajam apakah itu?
(Jawabannya: Jarum)
Jika tuan membeli tikar
Tikar anyaman dari mengkuang
Kalau tuan bijak pintar
Ular apa membelit pinggang?
(Jawabannya: Taling pinggang)
Pokoknya bulat dan juga rendang
Masam dan hijau ketika muda
Buahnya berbentuk seperti bintang
Sudah masak, kuninglah ia.
(Jawabannya: Belimbing)
Mak Minah menanak minyak
Kemenyan dibakar dengan setanggi
Dua peha beranak banyak
Untuk mendaki tempat yang tinggi?
(Jawabannya: Tangga)
Orang bekerja diberikan upah
Hidangan disaji dalam talam
Gajah putih ditengah rumah
Layar terkembang di waktu malam?
(Jawabannya: Tirai/kelambu)
Gigi berduri telah bersigai
Pembelah kayu ia berguna
Jika tuan orang yang pandai 
Benda apakah makannya dua cara?
(Jawabannya: Gergaji)




About