Beranda

Welcome

Selamat Datang di Blog Sarana Informasi ...... Welcome on this blog...benvenuti nel nostro blog..bienvenue sur notre blog...Willkommen in unserem Blog... bienvenido a nuestro blog...... 블로그에 오신 것을 환영합니다 beullogeue osin geos-eul hwan-yeonghabnida....

Friday, April 23, 2021

PERBEDAAN DARI PENGGUNAAN BAHASA TULIS DAN BAHASA UCAP DALAM BAHASA INDONESIA DAN BAHASA SUNDA

 


 

Indonesia adalah negara yang multilingual. Selain bahasa Indonesia yang digunakan secara nasional, terdapat pula ratusan bahasa daerah, besar maupun kecil, yang digunakan oleh para anggota masyarakat. Bahasa daerah itu digunakan untuk keperluan yang bersifat kedaerahan (Chaer, 2012:65). Salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia, yaitu bahasa Sunda. Bahasa Sunda adalah bahasa dari cabang Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia. Penutur bahasa ini berjumlah 38 juta orang dan merupakan bahasa ibu dengan penutur terbanyak kedua di Indonesia setelah bahasa Jawa. Bahasa Sunda dituturkan hampir di seluruh Provinsi Jawa Barat dan Banten, melebar hingga wilayah barat Jawa Tengah mulai dari Kali Brebes (Sungai Cipamali) di wilayah Kabupaten Brebes sampai ke Kali Serayu (Sungai Ciserayu) di Kabupaten Cilacap, di sebagian kawasan Jakarta, serta di seluruh Provinsi Indonesia dan luar negeri yang menjadi daerah urbanisasi suku Sunda.

Bahasa-bahasa daerah di Indonesia mempunyai pengaruh dalam pembentukan dan pengembangan bahasa Indonesia. Sebelum mengenal bahasa Indonesia  sebagian besar bangsa Indonesia mempelajari dan menggunakan bahasa daerah dalam interaksi kehidupan masyarakat. Ucapan dan cara penyampaian ide-ide dipengaruhi kebiasaan yang lazim digunakan oleh masyarakat itu. Bahasa daerah tetap dipelihara oleh negara sebagai bagian kebudayaan yang hidup.Bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua sedangkan bahasa pertama adalah bahasa ibu, yaitu bahasa daerah, seperti bahasa Jawa, Sunda, Aceh, Batak, Minangkabau, Bali dan masih banyak lagi yang lain. Dalam realitanya bahasa daerah sangat berperan penting dalam perkembangan dan pertumbuhan bahasa Indonesia yang kita gunakan.

Pembelajaran bahasa kedua seringkali dihadapkan pada kesulitan- kesulitan yang ditimbulkan oleh asumsi- asumsi pembelajar yang terbawa dari bahasa pertama atau bahasa ibu. Hal ini dapat diantisipasi dengan pengontrasan bahasa pertama atau bahasa ibu dengan bahasa kedua agar dapat tergambar hal-hal apa saja yang dapat menjadi hambatan dalam pembelajaran bahasa kedua.

Pengontrasan bahasa pertama atau bahasa ibu dengan bahasa kedua dapat dilakukan dengan analisis kontrastif. Analisis Kontrastif (Contrastive Analysis) adalah sebuah metode yang digunakan dalam mencari suatu perbedaan antara bahasa pertama (B1) dan bahasa target (B2) yang sering membuat pembelajar bahasa kedua mengalami kesulitan dalam memahami suatu materi bahasa kedua yang dipelajarinya tersebut. Secara umum memahami pengertian analisis kontrastif dapat diartikan sebagai semacam pembahasan atau uraian. Yang dimaksud dengan pembahasan adalah proses atau cara membahas yang bertujuan untuk mengetahui sesuatu dan memungkinkan dapat menemukan inti permasalahannya. Permasalahan yang ditemukan itu kemudian dikupas, dikritik. diulas, dan akhirnya disimpulkan untuk dipahami.

Menurut (Pranowo, 1996) Analisis kontrastif sering dipersamakan dengan istilah linguistik kontrastif. Linguistik kontrastif adalah suatu cabang ilmu bahasa yang tugasnya membandingkan secara sinkronis dua bahasa sedemikian rupa sehingga kemiripan dan perbedaan kedua bahasa itu bisa dilihat. Analisis kontrastif diharapkan dapat mengidentifikasikan perbedaan struktur bahasa pertama dengan bahasa kedua dan memperkirakan kesulitan dan kesalahan berbahasa. Setelah kedua harapan diatas terpenuhi diharapkan dengan adanya analisis kontrastif hambatan- hambatan yang muncul pada pembelajaran bahasa kedua dapat teratasi.

Dalam pembelajaran, ketika siswa berbicara bahasa ibu terkadang masih terbawa di kelas, banyak sekali bunyi-bunyi khas dari bahasa ibu tidak bisa dihilangkan oleh seorang siswa. Maka dalam makalah ini akan dipaparkan beberapa perbedaan segi fonologi atau pengucapan bahasa sunda yang harus diketahui berbeda dengan bahasa Indonesia. Namun kenyataan yang terjadi, hal tersebut diianggap tidak penting oleh sebagian pengajar, sehingga mereka terkadang tidak ingin menganggapnya menjadi hal yang serius.

Fonologi secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi, dan logi yaitu ilmu. Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa (Chaer, 2007). Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik.

Fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan. Sedangkan Fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna (Chaer, 2007). Jika dalam fonetik kita mempelajari segala macam bunyi yang dapat dihasilkan oleh alat-alat ucap serta bagaimana tiap-tiap bunyi itu dilaksanakan, maka dalam fonemik kita mempelajari dan menyelidiki kemungkinan, bunyi ujaran yang manakah yang dapat mempunyai fungsi untuk membedakan arti.

Klasifikasi vokal atau bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah bisa bersifat vertikal dan horizontal. Secara vertiakal dibedakan menjadi vokal tinggi, misal, bunyi /i/ dan /u/. Vokal tengah misalnya, bunyi /e/ dan / Ə/ dan vokal rendah misalnya /a/. Secara horizontal dibedakan adanya vokal depan misal. Bunyi /e/ dan /i/; vokal pusat misalnya bunyi /Ə/; dan vokal belakang misalnya bunyi /u/ dan /o/. Kemudian menurut bentuk mulut dibedakan adanya vokal bundar dan vokal tak bundar. Disebut vokal bundar karena bentuk mulut membundar ketika mengucapkan vokal itu, misal bunyi vokal /u/ dan /o/. Disebut vokal tak bundar karena bentuk mulut tidak membundar, melainkan melebar pada waktu pengucapan vokal misal /e/ dan /i/.

Menurut (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1983), fonemis dalam bahasa sunda terdiri dari konsonan dan vokal, distribusi konsonan dan vokal, serta deretan vokal dan konsonan. Terdapat tujuh buah vokal dalam bahasa sunda, yaitu: adanya bunyi bersuara dan tidak bersuara. Bunyi bersuara terjadi apabila pita suara hanya terbuka sedikit, sehingga terjadilah getaran pada pita suara tersebut. Yang termasuk bunyi bersuara antara lain: /b/, /d/,/ a/  [ a],  / i/   [ i] ,   / u/  [ u],  / é / [ ε], /o / [ o], / eu/ [ ö], dan / e/ [ c].

Fonemis dalam bahasa sunda terdiri dari konsonan dan vokal, begitu pula dalam bahasa Indonesia, akan tetapi adapula perbedaan-perbedaan vokal dan konsonan dari kedua bahasa tersebut. Di bawah ini dapat dilihat beberapa perbedaan bahasa sunda dan bahasa Indonesia berdasarkan distribusi konsonan dan vokal, serta deretan vokal dan konsonan.

Terdapat tujuh buah vokal dalam bahasa sunda, yaitu: / a/ [ a], / i/ [ i] ,/ u/  [ u], / é / [ ε],  /o / [ o],  / eu/ [ ö], dan / e/ [ c], (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa : 1983 )     sedangkan terdapat lima buah  vokal dalam bahasa Indonesia. Distribusi vokal dalam bahasa Sunda berada pada posisi awal, tengah dan akhir, terkecuali fonem /e/ yang tidak bisa berada pada posisi akhir kata. Walaupun demikian, pada bahasa Sunda juga terkadang ditemukan fonem /e/ yang berada di akhir kata, tetapi biasanya bunyi yang dihasilkan berubahb menjadi /eu/.

Dari paparan di atas, sangatlah jelas bahwa kemungkinan deretan vokal bahasa Sunda ada 29 buah. Sedangkan dalam bahasa Indonesia kata yang memiliki dua deretan vokal itu disebut dengan diftong. Diftong dalam bahasa Indonesia adalah /au/ seperti pada kerbau dan harimau, /ai/ pada landai dan cukai. Apabila ada dua vokal yang berurutan, namun yang pertama terletak pada suku kata yang berlainan dari yang kedua, maka di situ tidak ada diftong. Jadi vokal /au/ dan /ai/ pada kata bau dan lain bukanlah diftong.

Karena pengaruh budaya Jawa pada masa kekuasaan kerajaan Mataram-Islam, bahasa Sunda - terutama di wilayah Parahyangan - mengenal undak-usuk atau tingkatan berbahasa, mulai dari bahasa halus, bahasa loma/lancaran, hingga bahasa kasar. Namun, di wilayah-wilayah pedesaan/pegunungan dan mayoritas daerah Banten, bahasa Sunda loma (bagi orang-orang daerah Bandung terdengar kasar) tetap dominan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak ada istilah undak-usuk bahasa.

Mulanya bahasa Sunda ditulis dengan aksara Sunda. Aksara Sunda merupakan salah satu aksara berumpun Brahmi yang diturunkan dari aksara Pallawa lewat aksara Kawi, seperti halnya aksara Jawa. Bukti-bukti tertulis mengenai evolusi aksara ini muncul di beberapa prasasti yang ditemukan dari abad ke-10 (era kerajaan Mataram Kuno) hingga abad ke-15 M pada masa keemasan Kerajaan Pajajaran. Prasasti yang diyakini merupakan kunci evolusi aksara Sunda adalah Prasasti BatutulisPrasasti Astana Gede, dan Prasasti Kebantenan.

Kolonialisasi di Nusantara menyebabkan aksara Sunda kuno menjadi terancam. Bersama dengan keluarnya ultimatum dari VOC pada tanggal 3 November 1705, aksara Sunda kuno dan Rikasara Cirebon punah. Setiap orang yang menulis dokumen-dokumen resmi hanya diperbolehkan menulis aksara Jawa, abjad Pegon, dan alfabet Latin untuk menuliskan bahasa Jawa dan Sunda. Alfabet Latin sendiri mulai diintensifkan untuk mentranskripsi karya-karya yang ditulis menggunakan aksara Sunda Kuno dan Pegon pada abad ke-19 hingga ke-20. Akhirnya bahasa Sunda ditulis dalam alfabet latin seperti hanya bahasa Indonesia.

 

Kesimpulan

Berdasaran uraian di atas menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Sunda baik sebagai bahasa tulis maupun sebagai bahasa ucap. Akan tetapi keduanya memiliki persamaan yaitu menggunakan alfabet latin dan penulisannya. Selain itu ada beberapa kata yang jika diucapkan akan sama tetapi mengandung makna yang berbeda.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Chaer, Abdul. 2007.            Linguistik Umum, Jakarta: Rineka Cipta

 

https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sunda

 

Lembaga Basa dan Sastra Sunda. 1975. Kamus Basa Sunda. Bandung: Tarate.

 

Pranowo. 1996. Analisis Pengajaran Bahasa, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

 

Pusat Pembinaan dan Pengembanan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1997. Kosakata Bahasa Sunda dalam Media Masa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

 

Robins, r.h. 1983. Sistem dan Struktur Bahasa Sunda. Jakarta: IKAPI.

 

Fraenkel, J. P. & Wallen N. E. (2008). How to design and Evaluate Research in Education. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

 

 

 

No comments:

Post a Comment

About

Popular Posts