Beranda

Tuesday, September 22, 2020

Konsep Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

 


1.   Pengertian Penelitian tindakan kelas (PTK)

Arikunto, S (2010), Penelitian tindakan kelas dalam istilah asing dikenal dengan Classroom Action Research, yang jika diurai satu persatu sebagai berikut:

a.   Penelitian berarti suatu kegiatan melihat mencermati dan mengamati objek dengan menggunakan metodologi tertentu untuk mendapat informasi atau data yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu.

b.   Tindakan berarti suatu upaya atau kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tahapan yang sesuai dengan tujuan tertentu.

c.   Kelas, berarti sekelompok siswa yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran pada waktu dan area tertentu dari guru yang sama.

Dengan menggabungkan batasan pengertian 3 kata inti tersebut, dapat dipahami bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.

Wardhani, IGAK dan  Wihardit, K (2017), penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru didalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat.

Dapat dipahami bahwa penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru dengan mencermati kekurangan atau kelemahan yang ada didalam kelasnya sendiri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja guru dan  meningkatkan hasil belajar anak.

2.   Karakteristik penelitian tindakan kelas (PTK)

Menurut Wardhani, IGAK dan Wihardit, K (2017) ciri-ciri PTK diantaranya:

a.   An Inquiry of practice from within, penelitian berawal dari kerisauan guru atau adanya masalah dalam kinerjanya.

b.   Self-reflective inquiry, refleksi diri yang bersifat agak longgar, tetapi tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian.

c.   Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran

d.   Bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran.

3.   Model penelitian tindakan kelas (PTK)

Arikunto, S (2010),  Ada beberapa ahli yang mengemukakan model penelitian tindakan dengan bagan yang berbeda, namun secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu:

a.   Perencanaan.

Pada tahap ini peneliti menjelaskan tentang

b.   Pelaksanaan tindakan.

c.   Pengamatan.

d.   Refleksi.

Langkah merencanakan merupakan langkah pertama dalam setiap kegiatan. Rencana merupakan acuan dalam melaksanakan tindakan. Pelaksanaan merupakan langkah yang kedua yang merupakan realisasi dari rencana yang dibuat. Selanjutnya agar tindakan yang dilakukan dapat diketahui kualitasnya, perlu dilakukan pengamatan. Berdasarkan dari pengamatan ini akan dapat menentukan apakah ada hal-hal yang harus diperbaiki agar sesuai dengan tujuan perbaikan yang akan dicapai. Jika pengamatan dilakukan selama proses pelaksanaan berlangsung, maka refleksi sebagai langkah keempat, yang dilakukan setelah tindakan berakhir. Keempat tersebut merupakan satu siklus atau daur, oleh karena itu kemungkinan setiap tahap akan berulang pasti ada.

4.   Tujuan dan Manfaat penelitian tindakan kelas (PTK)

a.   Tujuan penelitian tindakan kelas

Menurut Arikunto, S (2010), tujuan PTK antara lain:

1)       Meningkat mutu isi, masukan, proses, serta hasil pendidkan dan pembelajaran di sekolah.

2)       Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas.

3)       Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.

4)       Menumbuhkan budaya akademik dilingkungan sekolah, sehingga tercipta proaktif dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan.

b.   Manfaat penelitian tindakan kelas

Wardhani, IGAK dan Wihardit, K (2017), manfaat penelitian tindakan kelas terbagi menjadi tiga, yaitu:

1)       Manfaat bagi guru diantaranya adalah untuk memperbaiki pembelajaran, dapat mengembangkan keprofesionalan guru, membuat guru lebih percaya diri, dan berperan aktif dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan diri.

2)       Manfaat bagi pembelajaran/anak yaitu diharapakan hasil belajar anak diharapkan akan meningkat.

3)       Manfaat bagi sekolah diantaranya memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah, perbaikan proses dan hasil belajar siswa, serta kondusifnya iklim pendidikan di sekolah.

Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak Melalui Kartu Angka

 

A.  Kemampuan Kognitif Anak

1. Pengertian Kemampuan

Kemampuan adalah perpaduan antara teori dan pengalaman yang diperoleh dalam praktek di lapangan, termasuk peningkatan kemampuan menerapkan teknologi yang tepat dalam rangka peningkatan produktivitas kerja (Musfiroh, 2012:122).

Menurut Asmani (2011:102), bahwa kemampuan adalah kapasitas seseorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. Selanjutnya totalitas kemampuan dari seseorang individu pada hakekatnya tersusun dari dua perangkat faktor, yakni kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Kemampuan intelektual adalah kemampuan untuk menjalankan kegiatan mental. Kemampuan fisik adalah kemampuan yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, kecekatan, kekuatan dan bakat-bakat sejenis.

Kemampuan adalah sifat lahir dan dipelajari yang memungkinkan seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya. Adapun apa yang harus dimiliki oleh seseorang dalam menghadapi pekerjaannya menurut Mitzberg seperti yang dikutip Gibson, ada empat kemampuan (kualitas atau skills) yang harus dimiliki oleh seseorang dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai berikut:

a.   Keterampilan teknis, adalah kemampuan untuk menggunakan alat-alat, prosedur dan teknik suatu bidang khusus.

b.   Keterampilan manusia, adalah kemampuan untuk bekerja dengan orang lain, memahami orang lain, memotivasi orang lain, baik sebagai perorangan maupun sebagai kelompok.

c.   Keterampilan konseptual, adalah kemampuan mental untuk mengkoordinasikan, dan memadukan semua kepentingan serta kegiatan organisasi.

Menurut Atmosudirdjo (2008:37), kemampuan adalah sebagai sesuatu hal yang perlu dimiliki oleh setiap individu dalam suatu organisasi. Kemampuan tersebut terdiri atas tiga jenis kemampuan (abilities) yaitu kemampuan sosial, kemampuan teknik dan kemampuan manajerial.

Konsep kemampuan dalam kepustakaan dikenal dua terminologi yang memiliki makna yang sama, yaitu ada yang memakai istilah abilities dan istilah skills. Dengan mengacu pada pendapat di atas, juga membedakan jenis keterampilan/kecakapan yang terdiri atas keterampilan/kecakapan kemanusiaan (human skills), keterampilan/kecakapan administrasi (administrative skills), dan keterampilan/kecakapan teknik (technical skills) (Kayvan, 2009:15).

2. Pengertian Angka

Menurut Musfiroh (2012:28) angka atau bilangan adalah lambang atau simbol yang merupakan suatu objek yang terdiri dari angka-angka. Sebagai contoh bilangan 10, dapat ditulis dengan dua buah angka (double digits) yaitu angka 1 dan angka 10). Bilangan banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, bilangan yang ditemui anak-anak sebenarnya memiliki arti yang berbeda-beda.

Seperti yang dikemukakan oleh Fatimah (2011:14) anak-anak akan belajar membedakan arti bilangan berdasarkan penggunaan yaitu:

a.   Bilangan kardinal menunjukkan kuatitas atau besaran benda dalam sebuah kelompok.

b.   Bilangan ordinal, digunakan untuk menandai urutan dari sebuah benda, contoh juara kesatu, dering telepon, ke lima kalinya.

c.   Bilangan nominal, digunakan untuk member nama benda, contoh: nomor rumah, kode pos, nomor lantai/ruang di gedung, jam, uang, dll.

Seperti apa yang dikemukakan oleh Marhijanto (2008:30) bahwa bilangan adalah banyaknya benda, Jumlah, satuan system matematika yang dapat diunitkan dan bersifat abstrak. Konsep abstrak iini merupakan hal yang sulit untuk anak Taman Kanak kanak memahami secara langsung. Sebagaimana yang telah dikemukakan bahwa konsep bilangan itu bersifat abstrak, maka cenderung sukar untuk dipahami oleh anak  usia dini dan Taman  Kanak-kanak dimana pemikiran anak Taman Kanak-kanak berdasarkan pada pengalaman kongkret. Untuk dapat mengembangkan konsep bilangan pada anak anak Taman Kanak-kanak tidak dilakuakn dalam jangka waktu pendek, yang harus dilakukan secra bertahap dalam jangka waktu yang lama, serta dibutuhkan media yang kongkrit untuk membantu proses pembelajaran mengenal bilangan.

Wardani (2008:27) mengungkapkan  bilangan merupakan suatu konsep tentang bilangan yang terdapat unsur-unsur penting seperti nama, urutan, bilangan dan Jumlah. Indikator yang berkaitan dengan kemampuan mengenal konsep bilangan yaitu:

a.       Counting (berhitung)

b.       One-to-one correspondence (koresponden satu-satu)

c.       Quality (kuantitas)

d.       Comparison (perbandingan)

e.       Recognizing and Writing Numeral (mengenal dan menulis angka).

Anak memiliki kemampuan counting (berhitung) sebelum berusia 3 tahun bahwa anak mampu menyebutkan urutan bilangan, misalnya satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya. Untuk bisa berhitung anak-anak memulai berhitung dari 1 sampai 9 setelah itu 10 dan seterusnya yaitu bilangan yang terdiri dari 2 angka, misalnya anak mampu menyebutkan bilangan “sebelas” bukan menyebutkan “sepuluh satu” dan sebagainya.

 

B.  Penggunaan Media Kartu Angka

1.   Pengertian Media

Kata media berasal dari bahasa Latin “Medius” yang berarti tengah, perantara, dan pengantar, dalam bahasa Arab, media diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan. Menurut Djamarah (2002:136), media adalah alat bantu apa saja yang dapatg dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai suatu tujuan pembelajaran. Menurut Purnawati dan Eldarni (2001:4), media merupakan sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan suatu informasi sehingga dapat merangsang fikiran, persaan, perhatian, dan minat anak sehingga terjadi proses belajar. Istilah media dalam bidang pembelajaran disebut juga media pembelajaran, alat bantu atau media tidak hanya dapat memperlancar proses komunikasi akan tetapi dapat merangsang anak untuk merespon dengan baik segala pesan yang disampaikan.

a. Jenis-jenis Media

Berdasarkan pengertian media yang disebutkan oleh beberapa pakar, secara umum media itu banyak, ada media elektronik, media gambar dan lain sebagainya. Media yang dibahas  pada  penelitian ini merupakan jenis media yang secara khusus digunakan pada pendidikan anak usia dini. Jenis-jenis media yang digunakan dalam meningkatkan pengetahuan untuk anak usia dini diantaranya adalah:

1)   Media Serutan Kayu

2)   Media gambar

3)   Media Kartu Angka   (Nurani, 2012:63).

b.   Manfaat Media

Menurut pendapat Daryanto (2011:25) tentang manfaat media pengajaran dalam proses belajar anak sebagai berikut:

1)  Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.

2)  Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik.

3)  Metode pengajaran akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal  melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga.

2.   Permainan Kartu Angka Dalam Mengenal Angka

Kartu angka atau alat peraga kartu  adalah alat-alat atau perlengkapan yang digunakan oleh seorang guru dalam mengajar yang berupa kartu dengan bertuliskan angka sesuai dengan tema yang diajarkan. Alat peraga kartu adalah alat bantu bagi anak untuk mengingat pelajaran. Alat peraga kartu huruf dapat menimbulkan kesan di hati sehingga anak-anak tidak mudah melupakannya. Sejalan dengan ingatan anak akan alat peraga itu, ia juga diingatkan dengan pelajaran yang disampaikan guru. Semakin kecil anak, ia semakin perlu visualisasi/konkret (perlu lebih banyak alat peraga) yang dapat disentuh, dilihat, dirasakan, dan didengarnya (Nurani, 2012:65).

Alat peraga kartu adalah alat untuk menjelaskan yang sangat efektif, misalnya: Untuk menjelaskan usia, ciri khas, karekter atau sifat dari seorang tokoh. Dengan alat peraga, gambar lebih jelas daripada dijelaskan dengan kata-kata saja. Sehingga anak dapat menghayati karakter tokoh yang diceritakan.  Untuk menjelaskan situasi sebuah tempat, misal keadaan sebuah kota, bangunan, dan sebagainya, dengan gambar akan lebih jelas daripada diceritakan secara lisan saja  (Nurani, 2012:66).

 

 

3.   Langkah-Langkah Penerapan Kartu Angka Dalam Pembelajaran

Menurut Musfiroh (2012:25) kartu angka merupakan fasilitas penting dalam pembelajaran di sekolah karena bermanfaat untuk meningkatkan perhatian anak. Dengan alat peraga kartu, anak diajak secara aktif memperhatikan apa yang diajarkan guru. Satu hal yang harus diingat, walaupun fasilitas alat peraga kartu yang dimiliki sekolah sangat minim, tetapi bila penggunaan alat peraga diikuti dengan metode anak aktif, maka efektifitas pengajaran akan semakin baik. Maka adapun langkah penerapan penggunaan kartu angka dalam pembelajaran yaitu:

a.   Kartu huruf dikembangkan bentuknya ke kartu angka-huruf. Satu sisi bertulis angka, satu sisi bertulis huruf.

b.   Mula-mula anak membaca angka.

c.   Apabila benar, anak boleh membaca hurufnya.

d.   Jika anak mau belajar membaca, permainan dibalik, anak membaca sisi hurufnya terlebih dahulu baru membuka sisi yang bertulis angka.

4.   Manfaat Bermain Kartu Angka Dalam Peningkatan Mengenal Angka

a.   Kognitif. Anak dapat meningkatkan kemampuan anak didik dalam mengenal lambang bilangan, menyebut/membilang lambang bilangan, dan juga menghubungkan konsep bilangan dengan lambang bilangan.

b.   Sosial. Berman kartu angka bersama teman akan meningkatkan kemampuan sosialnya untuk saling berbagi, membantu, menawarkan mainan juga membangun hubungan persahabatan.

c.   Bahasa. Saat anak bermain komunikasi verbal yang terjadi dua arah akan semakin memperkaya kosa kata dan memperlancar bicara dan meningkatkan bahasa anak.

d.   Sensoris. Bermain kartu angka dapat merangsang anak untuk mengasah.

e.   Psikomotorik. Anak–anak bermain kartu angka dengan kegiatan yang dapat melatih koordinasi tangan dan kakinya diantaranya berjalan, berlari mencari angka yang disembunyikan, meloncat melatih otot-otot, koordinasi mata dan motorik kasar anak.

 

Thursday, September 17, 2020

Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini (AUD)

 


Setiap pakar atau ahli mempunyai kekayaan ilmu atau teori dan pengalaman pada bidangnya masing-masing. Perpaduan antara ilmu teori dengan pengalaman di lapangan merupakan fasilitas bagi pengembangan praktisi dan professional yang kompeten. Guru PAUD adalah profesi yang membutuhkan kompeten. Oleh karena itu, guru PAUD harus mempunyai kekayaan ilmu atau teori dan didukung oleh pengalaman lapangan. Untuk menjadi professional yang kompeten di bidang PAUD, harus dimulai dengan mempelajari tumbuh-kembang anak usia dini tersebut.

Dalam hal ini ada baiknya dipelajari beberapa pendapat dari beberapa ahli, dimana setiap ahli memberikan aksentuasi atau penekanan pada poin atau bidang yang berbeda. Berikut ini akan dikemukakan beberapa pendapat para ahli tentang aspek-aspek perkembangan pada anak usia dini.

Janet Black melihat bahwa tumbuh-kembang anak melakukan tahap-tahap sebagai berikut:

1.     Tahap infancy I (0-1 tahun). Aspek yang perlu mendapat perhatian pada perkembangan tahap ini adalah:

a)     Perkembangan fisik dan motorik,

b)     Perkembangan psiko-sosial,

c)     Perkembangan kognitif, dan

d)     Perkembangan bahasa.

2.     Tahap infancy II (1-3 tahun). Aspek perkembangan pada tahap ini sama dengan tahap infancy I, hanya saja kematangannya yang berbeda.

3.     Tahap anak umur 4-5 tahun. Aspek yang perlu dipelajari pada tahap perkembangan ini sama dengan masa infancy.

Walaupun Janet Black melihat aspek perkembangan yang sama pada tahap yang berbeda, tetapi materi perkembangan yang dipelajari pada setiap tahap berbeda satu dengan yang lain. Berbeda dengan Janet Black, Papalia dan Olds berpandangan perkembangan anak usia dini dapat dikategorikan menjadi dua kelompok.

(a)   Kategori perkembangan fisik dan intelektual.

a.      Perkembangan fisik melingkupi.

1)     Pertumbuhan dan perubahan fisik.

2)     Kesehatan dan masalah fisik.

3)     Keterampilan motorik.

4)     Pola tidur dan masalahnya.

b.     Perkembangan intelektual melingkupi: ingatan, kognitif, bahasa, dan perkembangan intelegensia.

(b)  Kategori perkembangan kepribadian dan sosial

Berbeda dengan Janet Black maupun Papalia dan Olds, Elizabeth B. Hurlock berpandangan bahwa perkembangan anak dapat ditinjau dari aspek masa-masa atau umur tertentu. Adapun aspek-aspek perkembangan tersebut adalah: perkembangan fisik-motorik, sosial-emosional, moral keagamaan, dan perkembangan kognitif.

Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

 


Secara umum tujuan Pendidikan Anak Usia Dini ialah memberikan simulasi atau rangsangan bagi perkembangan potensi anak agar menjadi manusia bermain dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percara diri, dan menjadi warga negara yang demokrasi dan bertanggung jawab. Dalam hal ini, posisi Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bernegara, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak mulia, sehat, berilmu, dan cakap (Puskur, Depdiknas:2007).

Senada dengan tujuan di atas, Solehuddin (1997) dalam Suryadi & Mauliya Ulfah, (2015 : 19), menyatakan bahwa tujuan pendidikan anak usia dini ialah memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal dan menyeluruh sesuai dengan norma dan nilai-nilai kehidupan yang dianut. Melalui pendidikan anak usia dini, anak diharapkan dapat mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya-intelektual (kognitif), sosial, emosi, dan fisik-motorik). Selain itu, yang tidak boleh ditinggalkan adalah perkembangan rasa beragama sebagai dasar-dasar akidah yang lurus sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya, memiliki kebiasaan atau perilaku yang diharapkan, menguasai sejumlah pengetahuan dan keterampilan dasar sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangannya serta memiliki motivasi dan sikap belajar yang positif.

Tujuan pendidikan Anak Usia Dini yang lebih ekstrim dikemukakan oleh Suyanto, (2005) dalam Suryadi & Mauliya Ulfah, (2015 : 19) yang mengatakan bahwa tujuan PAUD adalah untuk mengembangkan seluruh potensi anak (the whole child) agar kelak dapat berfungsi sebagai manusia yang utuh sesuai falsafah suatu bangsa. Untuk menjadi manusia sempurna atau utuh, harus terpelihara fitrah dalam dirinya. Fitrah adalah konsep Islam tentang anka, dimana anak dipandang sebagai makhluk unik yang berpotensi positif. Atas dasar ini, anak dapat dipandang sebagai individu yang baru mengenal dunia. Ia belum mengetahui tatakrama, sopan santun, aturan, norma, etika, dan berbagai hal tentang dunia dan isinya. Ia juga perlu dibimbing agar memahami berbagai fenomena alam dan dapat melakukan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup di masyarakat.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa secara praktis, tujuan Pendidikan Anak Usia Dini adalah sebagai berikut:

1.     Kesiapan anak memasuki pendidikan lebih lanjut.

2.     Mengurangi angka mengulang kelas.

3.     Mengurangi angka putus sekolah (DO).

4.     Mempercepat pencapaian wajib belajar Pendidikan Dasar 9 tahun.

5.     Menyelematkan anak dari kelalaian didikan wanita karier dan ibu berpendidikan rendah.

6.     Meningkatkan mutu pendidikan.

7.     Mengurangi angka buta huruf muda.

8.     Memperbaiki derajat kesehatan dan gizi anak usia dini.

9.     Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Selain tujuan di atas, menurut UNESCO ECCE (Early Chilhood Care and Education) tujuan PAUD antara lain sebagai berikut:

a)     PAUD bertujuan untuk membangun fondasi awal dalam meningkatkan kemampuan anak untukmenyelesaikan pendidikan lebih tinggi, menurunkan angka mengulang kelas dan angka putus sekolah.

b)     PAUD bertujuan menanam investasi SDM yang menguntungkan baik bagi keluarga, bangsa, Negara maupun agama.

c)     PAUD bertujuan untuk menghentikan roda kemiskinan.

d)     PAUD bertujuan turut serta aktif menjaga dan melindungi hak asasi setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang dijamin oleh undang-undang.

 

 

Soal Latihan Matematika Kelas 8 Materi Sistem Koordinat

 

1. Apa ciri - ciri sebuah titik yang berada di sumbu - x?
2. Gambarlah garis yang melalui titik A(4,-3) dan malaui titik B(4,3). Apakah garis tersebut tegak lurus terhadap sumbu x? Jelaskanlah jawabanmu?

3. Gambarlah garis k yang melaui A(3, -5) dan tegak lurus sumbu x?

4. Gambarlah garis l yang melaui titik K(6, -3) dan tegak lurus terhadap sumbu x! Apakah garis tersebut sejajar dengan sumbu y? Jika iya, mengapa? Jelaskanlah alasanmu.

5. Gambarlah garis n yang melaui titik D(-2,5) yang tidak tegak lurus terhadap sumbu x! Apkah garis tersebut sejajar dengan sumbu y? Mengapa? Jelaskanlah alasanmu?

6. Gambarlah titik A (-6,5), B(6,6), C(-5,6) dan D(3,-4) pada bidang koordinat.
a. coba hubungkan keempat titik tersebut, apa yang terjadi?
b. coba gambar kembali keempat titik itu dengan syarat semua titik koordinat x nya dikurangi 2 dan koordinat y nya ditambah 2.

 

7. Gambarlah 4 titik yang memiliki jarak yang sama terhadap garis yang melalui titikA(3, 5) dan tegak lurus terhadap sumbu y, dan tentukan koordinat dari keempat titik tersebut?

 

8). Gambarlah titik A(1, -2), B(-3, 6), C(2, 8), dan D(-1, -5) pada koordinat Kartesius:

a. Tentukan titik-titik yang berada pada kuadran I, II, III, dan IV.

b. Tentukan jarak setiap titik dengan sumbu-x

c. Tentukan jarak setiap titik dengan sumbu-y

 

9). Gambarlah titik A(-4, 2), B(-4, 9), C(2, 2), dan D(3, 9), pada koordinat Kartesius

a. Tentukan jarak setiap titik dengan sumbu-x

b. Tentukan jarak setiap titik dengan sumbu-y

c. Tentukan jarak antara titik A dengan titik B

d. Tentukan jarak antara titik C dengan titik D

 

10). Gambarlah 4 titik pada bidang koordinat yang berjarak sama terhadap titik A(3 , -6)!

 

11). Ada berapa titik yang berjarak 5 dari sumbu-x dan 7 dari sumbu-y? Tunjukkan!

 

12). Gambarlah garis l melalui titik P(-3, 5) yang sejajar dengan sumbu-x dan tegak lurus dengan

sumbu-y

 

 

13). Gambarlah garis m melalui titik Q(2, 3) yang tidak sejajar dengan sumbu-x dan sumbu-y!

 

 

14). Gambarlah garis t yang melalui titik D(-2, 5) yang tidak tegak lurus terhadap sumbu-x dan tidak tegak lurus terhadap sumbu-y!

 

 

15). Gambarlah garis h yang melalui titik P(-2, -4) yang tidak sejajar dengan sumbu-y dan tidak

sejajar dengan sumbu-x!

Tuesday, September 15, 2020

NGAGUAR KECAP RAJÉKAN

 


Titénan kalimah ieu di handap !

(1)    Cara umum paimahan di Éropah, imah di Paris umumna apartemén atawa flat nu rata-rata jangkungna 4-6 lantéy.

(2)    Ulah sok tulas-tulis dina témbok WC !

Kecap rata-rata (1) jeung tulas tulis (2) dina kalimah di luhur téh disebutna kecap rajékan. Kecap rajékan téh nyaéta kecap anu diwangun ku cara nyebut dua kali atawa leuwih wangun dasarna, boh sabagéan atawa sagemblengna. Nyusun kecap rajékan disebutna ngarajék (reduplikasi) .

Kecap rajékan téh jumlahna aya tilu rupa:

  1. Kecap rajékan sagemblengna, nyaéta kecap rajékan anu diwangun ku cara nyebut dua kali atawa leuwih kalayan sagemblengna; sora jeung wangun kecapna teu robah. Kecap rajékan sagemblengna aya dua rupa:

(1)    Dwilingga

a.      Dwimurni, nyaéta kecap rajékan anu diwangun ku cara nyebut dua kali sagemblengna wangun dasar bari teu dirobah sorana. Conto: buku-buku, kuda-kudu, jste.

b.      Dwiréka, nyaéta kecap rajékan anu diwangun ku cara nyebut dua kali sagemblengna wangun dasarna bari robah sorana. Conto: bulak-balik, gulang-guling, jsté.

(2)    Trilingga

Kecap rajékan sagemblengna anu diwangun ku cara nyebut tilu kali wangun dasarna bari robah sorana. Contna: dar-dér-dor, blag-blig-blug, jsté.

  1. Kecap rajékan sabagéan, nyaéta kecap rajékan anu diwangun ku cara nyebut dua kali sabagean wangun dasarna, boh robah sorana boh henteu. Kecap rajékan sabagéan aya dua rupa:

(1)    Dwipurwa

Kecap rajékan sabagéan anu diwangun ku cara nyebut dua kali engang mimiti wangun dasarna. Contona: tatajong, papaling, jsté.

(2)    Dwimadya

Kecap rajékan sabagéan anu diwangun ku cara nyebut dua kali engang tengah wangun dasarna. Contona: sababaraha nu asalna tina sabaraha.

 

 

Sumber: Panggelar Basa Sunda, SMA/SMK/MA/MAK (2017)

About