Beranda

Thursday, November 27, 2025

TATA KRAMA NILAI BUDAYA DAN ETIKA DALAM DIRI MAHASISWA


Mahasiswa merupakan salah satu komponen dalam sistem pendidikan tinggi. Mahasiswa menjadi pelaku dan objek dalam sistem pembelajaran yang berlangsung di lingkup universitas ataupun insititut. Dalam sisi perkembangan manusia, mahasiswa merupakan individu yang sudah tergolong dewasa. Dari aspek psikologis, perkembangan psikis mahasiswa sudah berkembang menuju dewasa. 

Sebagai seorang individu yang sudah tergolong dewasa dan memiliki konsep pemikiran yang lebih matang, maka mahasiswa menjadi garda terdepan bagi masa depan bangsa. Kemajuan bangsa dan masa depan bangsa di masa yang akan datang akan tergantung pada kondisi mahasiswa saat ini. Karena mahasiswa sebagai individu yang memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi yang dapat mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, menjadi generasi yang memiliki bekal untuk dapat menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dipelajarinya dalam pembangunan bangsa.

Akan tetapi, harapan bangsa terhadap mahasiswa dapat tidak terwujud apabila mahasiswa saat ini tidak memiliki etika dan tata krama yang bersumber dari nilai-nilai budaya bangsa. Sebagai bangsa Indonesia yang memiliki berbagai macam nilai budaya dan tata krama yang luhur seharusnya menjadi pegangan dan pedoman bagi mahasiswa dalam menjalankan aktivitasnya selaku individu yang sedang menempuh pendidikan tinggi. 

Apalagi saat ini dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin masif sehingga nilai-nilai budaya dari negara luar dapat dengan mudah masuk ke negara kita. Sebagian besar nilai-nilai budaya yang masuk ke negara kita saat ini sebagian besar tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya yang ada di negara kita.

Tanpa disadari oleh mahasiswa, nilai-nilai budaya yang berasal dari negara luar tersebut sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan mahasiswa dalam kehidupannya sehari-hari. Banyak mahasiswa yang dalam pergaulannya sudah melupakan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Begitu pula dalam etika pergaulannya baik tata kramanya maupun dari tutur katanya.

Etika diartikan sebagai kebiasaan hidup yang baik yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain. Etika dipahami sebagai ajaran yang berisikan aturan tentang bagaimana manusia harus hidup yang baik sebagai manusia. Etika merupakan ajaran yang berisikan perintah dan larangan tentang baik buruknya perilaku manusia. Kaidah, norma dan aturan tersebut sesungguhnya ingin mengungkapkan, menjaga, dan melestarikan nilai tertentu, yaitu apa yang dianggap baik dan penting. Dengan demikian etika berisi prinsip-prinsip moral yang harus dijadikan pegangan dalam menuntun perilaku.

Secara luas, etika dipahami sebagai pedoman bagaimana manusia harus hidup dan bertindak sebagai orang baik. Etika memberi petunjuk, orientasi, dan arah bagaimana harus hidup secara baik sebagai manusia. Mengacu pada pemahaman tersebut maka etika lingkungan hidup pada hakekatnya membicarakan mengenai norma dan kaidah moral yang mengatur perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam, serta nilai dan prinsip moral yang menjiwai perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa seharusnya memiliki etika yang dilaksanakan dalam aktivitasnya sehari-hari baik dalam lingkungan kampus maupun lingkungan bermasyarakat. Sebagai salah satu komponen warga negara yang memiliki intelektual lebih tinggi seharusnya mahasiswa dapat menjadi contoh bagi warga negara lainnya dalam hal etika dan tata krama.

Seorang mahasiswa akan dilihat dari etika dan tata kramanya dalam pergaulan sehari-hari oleh masyarakat. Mahasiswa menjadi pencerminan dan sampel bagi warga masyarakat lainnya sehingga apabila seorang mahasiswa sudah tidak memiliki etika dan tata krama yang seharusnya, bagaimana dengan komponen masyarakat yang lain. 

Jadi, sebagai seorang mahasiswa kita seharusnya memiliki etika dan tata krama yang sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia. Nilai-nilai budaya yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu dan menjadi pegangan bagi masyarakat dalam menjalankan kehidupannya baik kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.


ESSAY TENTANG KELEMBAGAAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

 


Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 5 Ayat 1 mengamanatkan kepada pemerintah bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, kemudian pada pasal 11 Ayat 1 mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah untuk memberikan layanan serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu (berkualitas) bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi (UU No.20 Tahun 2003). Dalam konteks hari ini, tentu pendidikan tidak cukup hanya 12 tahun masa belajar, namun juga sampai tingkat Pendidikan Tinggi.

Berkaitan dengan Pendidikan Tinggi, dalam  Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi, pada pasal 4, disebutkan bahwa  Pendidikan Tinggi berfungsi: "Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa".

Perguruan Tinggi sebagai lembaga yang menyelengarakan Pendidikan Tinggi, memiliki peran penting dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) suatu negara. Melalui penyediaan pendidikan berkualitas, penelitian dan inovasi, pengembangan keterampilan, persiapan untuk pasar kerja, pemberdayaan individu, pengembangan pemimpin, dan kontribusi terhadap masyarakat, perguruan tinggi juga berkontribusi besar terhadap pembentukan dan penguatan SDM yang berdaya saing dan mampu memajukan masyarakat serta ekonomi secara berkelanjutan.

Berdasarkan UU dan peran dari Pendidikan Tinggi di atas, maka dapat kita pahami bersama bahwa Perguruan Tinggi seperti Univeristas, Institut, Sekolah Tinggi atau nama lain dari Perguruan Tinggi baik itu Perguruan Tinggi Negeri atau Perguruan Tinggi Swasta, memiliki tanggung jawab untuk menyelengarakan Pendidikan Tinggi yang dapat diakses oleh siapapun oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa mengesampingkan kualitas pendidikan.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi Dan Pengelolaan Perguruan Tinggi bahwa  Universitas adalah Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam berbagai rumpun ilmu pengetahuan dan/atau teknologi dan jika memenuhi syarat, Universitas dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 

Perguruan Tinggi memiliki peran penting dalam melahirkan generasi muda berkarakter dan berdaya saing tinggi yang nantinya akan menjadi game changer di tengah tantangan dan perubahan yang dihadapi masyarakat dunia saat ini. Kemampuan adaptasi tinggi, kompetitif dan berjiwa entrepreneur merupakan prasyarat utama yang perlu dimiliki oleh generasi muda saat ini agar dapat menjadi job creator atau technopreneur.

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia yang telah lama berdiri memiliki fungsi yang sama sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.  Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai salah satu perguruan tinggi yang berfokus menghasilkan sumber daya manusia yang berprofesi dalam bidang pendidikan.

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan memiliki kampus di beberapa tempat yang bertujuan untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat serta dalam upaya pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan tinggi di berbagai wilayah. Dengan demikian warga masyarakat yang berada di daerah dapat dengan mudah menjangkau kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Sebagai sebuah entitas lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) diharapkan memberikan sumbangsihnya dalam menciptakan sumber daya manusia yang dapat bersaing dalam era teknologi dan informasi yang berkembang sangat masif. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan berbagai jurusan yang diharapkan dapat menjadi perwujudan dan memberikan sumbangan atas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar para lulusan dapat memiliki daya saing di percaturan global. 

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) juga merekrut talenta-talenta yang memiliki potensi baik secara akademis maupun non akademis. Talenta yang akan menjadi mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) merupakan pelajar yang berasal dari berbagai pelosok daerah di nusantara yang dijaring melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN). Melalui jalur masuk tersebut kemudian para pelajar lulusan SMA dari berbagai daerah di Indonesia memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi akademiknya maupun non akademiknya di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). 

Selain talenta yang memiliki potensi secara akademis, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) juga menerima talenta-talenta yang memiliki potensi non akademis. Talenta-talenta tersebut ada yang memiliki prestasi dalam bidang olahraga, kesenian, budaya dan lain sebagainya. Talenta yang berprestasi dalam bidang olahraga memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi selain tetap dapat melanjutkan kemampuannya dalam bidang olahraga. Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) akan memberikan kesempatan kepada mahasiswa yang sekaligus atlet olahraga untuk terus melanjutkan statusnya sebagai atlet tetapi tetap menjalankan pendidikan tinggi di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Dengan demikian mahasiswa tersebut dapat melanjutkan pendidikannya sekaligus dapat terus berkarir sesuai bidang olahraga yang ditekuninya. Bahkan apabila mahasiswa tersebut memiliki prestasi dalam bidang yang ditekunina, kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) juga akan memberikan reward yang sesuai dengan prestasinya tersebut.

Peran universitas sangat penting dalam menyediakan wadah bagi pengembangan potensi diri mahasiswa. Di dalam wadah itu, harus ada dukungan baik secara moril maupun materiil. Namun, dukungan dari universitas tentu saja akan menjadi sia-sia apabila tidak ada kemauan untuk berprestasi dari para mahasiswa, bukan hanya kemauan yang dibutuhkan, kemampuan dan kesiapan pun wajib dimiliki.

Menurut saya, menjadi juara itu bukanlah segalanya. Ketika seorang mahasiswa dapat berproses, yaitu melalui pengalaman dalam proses pembelajaran, ia dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan pribadi yang lebih tangguh. Pembelajaran terus-menerus ini merupakan suatu proses yang harus dilalui untuk meraih prestasi dan mempertahankan prestasi.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) merupakan salah satu lembaga perguruan tinggi yang memiliki peranan strategis dalam pembangunan sumber daya manusia yang akan menunjang dan menjadi pilar-pilar pembangunan menuju Indonesia Emas tahun 2045.


Sunday, November 9, 2025

Cerpen tentang Guru

 Senja di Atas Bukit Kapur

Di ujung Desa Kedung, di mana jalanan berbatu selalu diselimuti debu putih dari bukit kapur, berdirilah SD Negeri 03. Di sana mengajar Bu Lastri, guru wali kelas 6, satu-satunya guru yang tidak pernah mengeluh meski gajinya sering terlambat.


Murid-muridnya memanggilnya 'Ibu Senja', bukan karena ia datang saat senja, tetapi karena matanya selalu memancarkan kehangatan seperti jingga di akhir hari.


Di antara 25 muridnya, ada seorang anak bernama Dika. Dika adalah anomali di kelas itu. Ia cerdas, tetapi ia juga murung dan cenderung menjauh. Seragamnya selalu kotor, dan ia sering tertidur di meja. Ketika Bu Lastri bertanya mengapa, Dika hanya menjawab, "Malam saya panjang, Bu."


Suatu sore di bulan Juli, saat semua murid pulang, Bu Lastri melihat Dika masih duduk di teras sekolah, tas kainnya diletakkan di sampingnya.


"Dika, kenapa belum pulang? Sudah mau magrib," tanya Bu Lastri lembut.


Dika menunduk. "Rumah sepi, Bu. Ayah masih di pasar sayur. Saya... saya harus menunggu," jawabnya pelan.


Bu Lastri tahu, ayah Dika adalah pedagang sayur keliling. Mereka hidup sangat pas-pasan. Malam panjang Dika ternyata bukan tentang bermain, melainkan tentang membantu ayahnya menyiapkan dagangan.


"Bawa sini tasmu. Kau temani Ibu membersihkan papan tulis," ajak Bu Lastri.


Sejak hari itu, rutinitas baru terbentuk. Setelah jam sekolah usai, Dika akan tinggal. Bu Lastri tidak memaksanya belajar, ia hanya membiarkan Dika membantunya merapikan buku, menyiram tanaman kembang sepatu di halaman, atau kadang hanya duduk diam sambil mendengarkan radio tua di meja guru.


Suatu hari, Dika melihat Bu Lastri sedang memperbaiki sebuah globe tua yang retak.


"Kenapa Ibu tidak beli yang baru?" tanya Dika.


Bu Lastri tersenyum. "Uangnya bisa dipakai untuk membeli kapur tulis lebih banyak, Nak. Selain itu, sesuatu yang retak tidak berarti tak berguna. Kita hanya perlu sedikit usaha untuk menyambungnya kembali. Lihat, bumi ini masih bulat, 'kan?"


Kata-kata itu menancap di benak Dika. Ia merasa seperti globe tua itu—retak, tetapi masih berharga.


Tiga bulan kemudian, hari ujian nasional tiba. Dika, yang dulunya sering tidur di kelas, kini menjadi yang paling fokus. Ia belajar bukan hanya untuk lulus, tetapi karena janji yang diam-diam ia buat pada dirinya sendiri: ia tidak akan mengecewakan Ibu Senja.


Hasil ujian keluar. Dika meraih nilai tertinggi se-kecamatan.


Saat perpisahan, Bu Lastri memberikan Dika sebuah bingkai foto. Di dalamnya, ada gambar Bu Lastri dan Dika, sedang duduk di teras sekolah, ditemani globe yang sudah mulus diperbaiki.


"Dika, kamu adalah murid yang paling Ibu banggakan. Ingat, Nak. Hidupmu mungkin pernah retak, tapi itu hanya peta, bukan takdir. Sekarang, sambunglah sendiri peta masa depanmu," bisik Bu Lastri, air matanya menetes.


Tahun berganti, debu kapur masih beterbangan di Desa Kedung. Bu Lastri masih mengajar di sana. Suatu pagi, sebuah mobil hitam mengkilap berhenti di depan SD Negeri 03. Keluar dari mobil itu, seorang pria muda mengenakan jas rapi.


Itu adalah Dika. Ia bukan lagi anak dengan seragam kotor. Ia telah menyelesaikan kuliahnya dan menjadi seorang arsitek sukses.


Dika menghampiri Bu Lastri yang terkejut. Ia tidak membawa hadiah mewah. Ia hanya mengeluarkan sebuah kotak kecil.


"Bu, ini untuk sekolah," kata Dika. Kotak itu berisi kunci.


"Kunci apa, Nak?" tanya Bu Lastri, bingung.


"Kunci perpustakaan, Bu. Saya tidak bisa memperbaiki semua jalan di desa, tapi saya bisa memperbaiki tempat di mana anak-anak bisa bermimpi. Ibu benar, sesuatu yang retak hanya butuh usaha untuk disambung," jawab Dika, matanya memancarkan cahaya jingga seperti senja di mata gurunya.


Bu Lastri tersenyum tulus. Ia sadar, hadiah terindah bagi seorang guru bukanlah uang atau jabatan, melainkan melihat benih yang ia tanam tumbuh menjadi pohon yang rindang, siap menaungi generasi berikutnya.

Cerpen Hari Pahlawan

 Sepatu Tua dan Janji di Surabaya

Desember 2024. Kota Surabaya terasa gerah, namun hiruk pikuknya tak pernah padam. Di sudut Jalan Tunjungan, di balik tumpukan buku tua dan kartu pos usang, duduklah Pak Harjo. Usianya sudah 95 tahun, punggungnya sedikit bungkuk, tetapi matanya masih menyimpan nyala api yang tajam.


Hari itu, 10 November, adalah Hari Pahlawan. Pak Harjo hanya diam, tangannya memegang sepasang sepatu bot tentara yang sudah usang dan koyak, dibungkus kain beludru pudar.


Seorang pemuda bernama Rizky, mahasiswa sejarah yang sedang mencari referensi, menghampirinya.


"Permisi, Kek. Hari ini 10 November. Semarak pahlawan terasa, tapi Kakek kok kelihatan sedih?" tanya Rizky sopan.


Pak Harjo tersenyum tipis, senyum yang membawa beban ratusan kisah. "Sedih bukan, Nak. Hanya mengenang. Sepatu ini... sepatu ini saksi bisu, Nak. Milik sahabat Kakek, namanya Bambang."


Rizky duduk bersila di lantai, matanya tertarik pada sepatu itu.


"Tahun 1945, Surabaya neraka, Nak. Belanda datang lagi, Inggris ikut campur. Kami, arek-arek Suroboyo, cuma punya bambu runcing dan keberanian," Pak Harjo memulai kisahnya, suaranya serak namun mantap.


Bambang, sahabatnya, adalah pemuda paling berapi-api. Ia selalu berkata, "Lebih baik hancur daripada dijajah lagi, Jo!"


Pada puncaknya pertempuran, saat pabrik gula dilebur menjadi benteng pertahanan, pasukan Bambang terdesak hebat. Peluru memberondong tanpa ampun. Saat itulah, Pak Harjo melihat Bambang terhuyung.


"Dia tertembak, Nak. Tapi sebelum roboh, Bambang melemparkan sepatu ini pada Kakek, lalu berteriak, 'Hidupkan Indonesia, Jo! Jangan biarkan mereka mengambilnya lagi!' Setelah itu... dia gugur." Air mata Pak Harjo menggenang, namun tidak jatuh.


Rizky menunduk, merasakan getaran kisah itu.


"Kakek selamat, dan kami terus berjuang. Sepatu ini adalah janji Kakek pada Bambang, dan pada semua yang gugur di hari itu. Janji untuk selalu menghidupkan Indonesia. Bukan dengan perang, tapi dengan jujur, dengan belajar, dengan bekerja keras," lanjut Pak Harjo, mengelus sepatu tua itu.


"Lalu, apa arti Hari Pahlawan bagi Kakek, sekarang?" tanya Rizky perlahan.


Pak Harjo mengangkat kepala, menatap lurus ke arah pemuda itu.


"Hari Pahlawan, Nak, bukan hanya tentang mengenang tanggal gugurnya seseorang. Tapi tentang menjaga janji yang mereka titipkan. Kau, yang sekarang sekolah tinggi, yang punya teknologi di tanganmu—kau adalah penerus Bambang. Pahlawan hari ini adalah mereka yang berjuang melawan kemiskinan, kebodohan, dan perpecahan. Teruslah belajar, Nak. Itu caramu menghidupkan Indonesia."


Rizky berdiri, hatinya dipenuhi rasa haru dan motivasi baru. Ia tahu, Hari Pahlawan bukan sekadar upacara, melainkan warisan tanggung jawab.


"Terima kasih, Kek. Saya mengerti. Saya akan menjaga janji itu," kata Rizky sambil membungkuk hormat.


Pak Harjo hanya tersenyum, kembali meremas sepatu tua di tangannya. Di luar, suara klakson dan riuh kota Surabaya berlanjut. Namun, bagi Pak Harjo, suara itu kini terdengar seperti gema janji seorang sahabat yang gugur 79 tahun silam, janji yang harus dijaga oleh generasi kini dan nanti.

Soal Ekonomi kelas 10

 

1. Seorang pedagang keripik singkong di kota Bandung mencatat data permintaan dan penawaran keripik singkong "Gurih Renyah" selama satu bulan. Data menunjukkan:

  1. Ketika harga (P) keripik singkong adalah Rp 12.000,00 per bungkus, jumlah permintaan (Qd) adalah 800 bungkus dan jumlah penawaran (Qs) adalah 400 bungkus.
  2. Ketika harga (P) naik menjadi Rp 18.000,00 per bungkus, jumlah permintaan (Qd) turun menjadi 600 bungkus dan jumlah penawaran (Qs) naik menjadi 1.000 bungkus.

Pertanyaan:

a. Tentukan fungsi permintaan (Qd) dan fungsi penawaran (Qs) keripik singkong tersebut.

b. Tentukan harga dan kuantitas keseimbangan pasar (Equilibrium).

c. Jika pemerintah menetapkan harga jual tertinggi (ceiling price) sebesar Rp 10.000,00 per bungkus, apakah yang akan terjadi pada pasar? Hitunglah besar kelebihan permintaan atau penawaran yang terjadi.


2: PT "Maju Terus" adalah perusahaan konveksi yang memproduksi seragam sekolah. Saat ini, perusahaan dihadapkan pada dilema karena adanya peningkatan pesanan seragam yang signifikan menjelang tahun ajaran baru. Kapasitas mesin jahit yang dimiliki sudah maksimal.

Perusahaan memiliki tiga pilihan untuk mengatasi peningkatan permintaan ini:

  1. Menolak semua pesanan baru karena keterbatasan sumber daya dan risiko penurunan kualitas.
  2. Membeli mesin jahit baru dengan teknologi canggih, namun membutuhkan investasi besar dan pelatihan karyawan.
  3. Menambah jam kerja (lembur) karyawan yang sudah ada, dengan risiko karyawan mengalami kelelahan dan biaya upah lembur yang tinggi.

Pertanyaan:

a. Jelaskan ketiga pilihan di atas berdasarkan konsep "What, How, and For Whom" dalam masalah ekonomi modern.

b. Jika perusahaan memutuskan untuk menambah jam kerja karyawan (Pilihan 3), jelaskan konsep biaya peluang (opportunity cost) yang dihadapi perusahaan.


3: Harga tiket bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) jurusan Jakarta-Solo mengalami kenaikan menjelang hari libur Idul Fitri.

Kondisi

Harga Tiket (P)

Jumlah Permintaan Tiket (Qd)

Normal

Rp 250.000,00

2.000 tiket

Libur Idul Fitri

Rp 300.000,00

1.800 tiket

Pertanyaan:

a. Hitunglah koefisien elastisitas harga permintaan tiket bus tersebut menggunakan rumus elastisitas busur (Arc Elasticity).

b. Jelaskan jenis elastisitas yang terjadi dan berikan interpretasi ekonomi atas hasil perhitungan tersebut.

c. Berdasarkan jenis elastisitas tersebut, apakah total penerimaan (Total Revenue) perusahaan bus akan meningkat atau menurun setelah kenaikan harga?


4: Seorang petani kopi di daerah Gayo mengalami kenaikan harga jual biji kopi di pasar internasional.

Kondisi

Harga Kopi (P) per Kg

Jumlah Penawaran (Qs) per Bulan

Awal

Rp 80.000,00

500 kg

Setelah Kenaikan

Rp 100.000,00

750 kg

Pertanyaan:

a. Hitunglah koefisien elastisitas harga penawaran biji kopi menggunakan rumus elastisitas titik (Point Elasticity) dari titik awal ke titik setelah kenaikan.

b. Jelaskan jenis elastisitas yang terjadi dan mengapa jenis elastisitas ini bisa muncul dalam konteks produk pertanian seperti biji kopi.


5: Desa A menerapkan sistem ekonomi di mana semua sumber daya dikuasai dan diatur oleh pimpinan desa. Masyarakat hanya mengikuti perintah pimpinan desa dalam memproduksi hasil bumi dan pembagian hasilnya diatur secara merata tanpa mempertimbangkan kinerja individu. Sementara itu, Desa B menerapkan sistem di mana individu bebas memiliki alat produksi, dan harga barang ditentukan oleh mekanisme pasar (permintaan dan penawaran), sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan keuntungan terbesar.

Pertanyaan:

a. Identifikasi dan jelaskan sistem ekonomi yang diterapkan oleh Desa A dan Desa B.

b. Sebutkan masing-masing satu kelebihan dan satu kelemahan dari sistem ekonomi yang diterapkan oleh Desa A.

c. Jika Anda adalah penduduk Desa B, dan harga barang kebutuhan pokok tiba-tiba naik drastis, kelemahan sistem ekonomi apa yang sedang Anda rasakan?

 

Puisi Tentang Pahlawan

 Nyala Abadi Sang Pahlawan

Di atas tanah yang basah oleh darah, Kau berdiri tegak, melawan musuh yang gagah. Bukan emas atau tahta yang kau cari, Hanya satu kata: Kemerdekaan sejati.


Baju lusuh, senjata seadanya, Tapi di dada, cita-cita membara. Kau tinggalkan keluarga, kau tinggalkan nyaman, Demi senyum anak cucu di masa depan.


Tetes peluh yang membasahi bumi, Adalah saksi cinta tak terperi. Jerit pedih dan doa dalam sunyi, Mengukir nama Indonesia yang merdeka kini.


Kau adalah Bintang di malam pekat, Penerang jalan, menembus kabut jahat. Kau adalah Sayap yang membawa kami terbang, Dari belenggu penjajah yang kejam dan garang.


Kini, sunyi pusaramu terbaring damai, Namun semangatmu tak pernah usai. Nyala abadi dalam setiap jiwa, Mengingatkan kami akan harga sebuah bangsa.


Pahlawan, jasamu takkan terbalaskan, Kau ajarkan arti pengorbanan tanpa batas. Kami yang kini menikmati cerahnya hari, Berjanji meneruskan perjuangan ini.


Hormat kami, Pahlawan bangsa. Engkau adalah jiwa, raga, dan harapan.

Puisi Untuk Guru

 Pelita Dalam Gelap

Di hening pagi, langkahmu tiba, Membawa lentera, menghalau gulita. Bukan harta atau pangkat yang kau minta, Hanya ilmu yang kau tanam, demi masa depan bangsa.


Tanganmu sabar, jemarimu lembut membimbing, Merangkai kata, mengubah coretan canggung. Kau ajarkan kami tak hanya aksara dan angka, Tapi juga makna hidup dan etika mulia.


Kadang keras, kadang penuh teguran, Semua demi arah dan demi sebuah tujuan. Kau adalah arsitek jiwa, pemahat karakter, Membentuk kami menjadi pembelajar sejati.


Di ruang kelas yang sederhana, Kau ciptakan dunia tanpa batas cakrawala. Dari kisah sejarah hingga rumus fisika, Kau buka jendela, tunjukkan indahnya logika.


Kini, di hari yang penuh makna ini, Kami persembahkan rasa terima kasih tak terhenti. Jasa-jasamu abadi, takkan pernah lekang, Engkau adalah pahlawan tanpa tanda jasa, Guru Tercinta.

About